Campursari ala Didi Kempot: Perempuan dan Laki-laki Jawa Mendobrak Patriarki
Oleh: Yola Damayanti Gani, S.S., M.Si. dan Willy Chandra, S.T.
Abstrak :
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti pada fenomenacampursari -musik etnik Jawa baru- yang sekitar tahun 2000 dipopulerkan oleh Didi Kempot –asal Solo, Jawa Tengah-. Lagu Campursari -teks dalam analisa studi Semiotika- kaya akan kode–kode sosial yang dapat menggambarkan perempuan dan laki-laki Jawa. Berangkat dari stereotip kultural, Didi kempot tidak hanya merepresentasikan laki-laki Jawa yang tenang, kalem dan tidak suka konflik, namun ia menghadirkan gambaran laki-laki yang (sama seperti perempuan) juga mengutamakan perasaan. Masih berada dibawah payung budaya Patriarki, perempuan berusaha mendobrak ideologi patriarki yang mebayang-bayanginya. Melalui lagu-lagunya, perempuan Jawa digambarkan semakin berani dalam menentukan sikapnya.
Kata kunci: Gambaran, Teks, Budaya Jawa, Patriarki
Industri Musik dan Didi Kempot
Ada beberapa komponen industri media yang membungkus pesan dan produk; pesan atau produk itu sendiri, penonton (yang mengkonsumsi produk), dan teknologi yang terus berubah. Komponen-komponen ini berinteraksi secara terus menerus dalam dunia sosial dan budaya, mendiami sebuah ruang yang secara konstan diuji. Perubahan kontur ruang akan mempengaruhi dan mengarah pada pola dominasi dan representasi yang berbeda-beda. Selain film, drama dan sinetron, lagu juga termasuk produk media. Bahasa menjadi bagian penting dari lagu, bahasa mencakup kode-kode representasi (yang tidak tampak) penuh dengan beragam kompleksitas visual literal, simbol dan metafora. Penelitian ini ditujukan untuk mengkonstruksikan gambaran perempuan dan laki-laki Jawa melalui lagu-lagu campursari yang diciptakan oleh Didi Kempot.
Nama Didi Kempot mulai ramai dibicarakan sekitar awal tahun 2000. Lagu-lagunya, kala itu Stasiun Balapan dan Sewu Kutha, diputar di banyak tempat di kota Solo. Didi Kempot dilahirkan pada 31 Desember 1966 dengan nama Didi Prasetyo. Didi, yang adalah adik kandung pelawak kondang Mamiek Srimulat, merintis karirnya dengan mengamen di bus-bus bersama teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Penyanyi Trotoar. Kempot sendiri merupakan kependekan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Kehidupan jalanan dan kelas menengah ke bawah adalah lingkungan yang sudah diakrabinya dengan baik. Tidaklah mengherankan jika tema lagu-lagu yang diciptanya selalu menggambarkan kejadian-kejadian dalam hidup keseharian dalam masyarakat kelas tersebut, demikian juga dengan lirik-liriknya yang menggunakan bahasa Jawa ngoko. Ia sedang berada di puncak kreativitasnya, inspirasi mengalir seperti air. Mencipta lagu dilakukan kapan saja, bahkan ketika sedang naik sepeda motor dan tiba-tiba mendapat ilham, ia segera berhenti untuk menulis lagu. Lagunya yang berjudul Nunut Ngeyup (Numpang Berteduh) misalnya, ia cipta kala berteduh di emperan sebuah toko saat sedang hujan.
Campursari sebagai sebuah aliran baru dalam musik etnis Jawa adalah sebuah fenomena yang berhasil dimunculkan oleh Didi Kempot, namun hingga meledaknya lagu-lagu campursari yang membesarkan namanya tidak diraih dengan mudah. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Didi Kempot untuk mempopulerkan musik ini. Pada awal kemunculan lagu-lagunya, Agustus 1999, tak satu pun pedagang kaset yang meliriknya. Gaya musik dengan nada yang sedikit ugal-ugalan dianggap meniru dari model musik karya Manthous yang tengah mapan waktu itu. Upaya promosi lewat televisi pun menemui hambatan karena video klip Stasiun Balapan yang sedianya ditayangkan di TVRI Solo gagal tayang disebabkan kesalahan teknis waktu pengambilan gambar. Lagu-lagu Didi Kempot mulai dikenal oleh masyarakat setelah disiarkan di radio-radio swasta di Solo. Dari Solo kemudian lagu-lagu Didi Kempot menjadi terkenal di seluruh Indonesia, khususnya Jawa, bahkan hingga ke mancanegara yaitu di Suriname yang warga negaranya mempunyai kultur etnis Jawa.
Dalam penelitian ini, lagu-lagu yang diciptakan oleh Didi Kempot adalah teks (sasaran penelitian). Lirik lagu adalah teks utamanya sedangkan kehadiran klip versi VCD menjadi teks pelengkap. Sebuah teks secara berurutan berada dalam siasat penempatan strategis secara terus menerus akan bersaing untuk memberi pengaruh paling besar, serta menggunakan struktur polisemi dengan beberapa bentuk tetap untuk menanamkan pemahaman atau ideologi tertentu pada pembaca.
Sebagai teks, lirik-lirik lagu Didi Kempot itu tidak berdiri sendiri, tetapi dilatarbelakangi oleh konteks sosial kultural. Stuart Hall, perintis cultural studies, menegaskan bahwa sebuah teks dimaknai dalam proses encoding dan decoding. Dalam proses encoding, kita akan memahami apa latar motivasi pembuat teks dan bagaimana konstruksi sosial kultural yang membentuk teks itu, sementara decoding menggiring pada bagaimana decoder menyusun makna. Mengutip dari Hall, “If the relationship between a signifier and its signified is the result of a system of social conventions specific to each society and to specific historical moments- then all meanings are produced within history and culture”. Dengan demikian Hall tidak melihat pemaknaan teks dalam proses kekuasaan satu arah. Hall melihat bahwa teks hadir sebagai sebuah representasi sosial dan relasi antar kekuasaan. (http://freelists-180.iquest.net/archieves/ppi/12-2004/msg02105.html, 2007, Februari 26).
Dalam pembahasan lirik lagu, konteks menjadi salah satu hal penting dalam memaknai lirik. Susan Donley (2001) melihat adanya keterkaitan yang kuat antara syair lagu dan realitas sosial. Dia membagi fungsi syair lagu menjadi tiga, yaitu fungsi literatur, fungsi dokumentasi sejarah, dan fungsi dokumentasi sosial. Fungsi literatur menekankan aspek tema dan pesan dalam syair. Fungsi dokumentasi sejarah melihat aspek tata nilai, kepercayaan dan peristiwa dalam kurun waktu tertentu. Sementara fungsi dokumentasi sosial melihat aspek representasi tren, motivasi dan pengalaman pembuat syair, serta untuk siapa syair itu dibuat. (http://freelists-180.iquest.net/archieves/ppi/12-2004/msg02105.html, 2007, Februari 26).
Ideologi adalah tentang ide-ide yang dimiliki secara umum oleh kelompok-kelompok sosial dalam kehidupan sehari-hari mereka yang diorganisasikan dengan cara-cara tertentu. Ideologi merupakan ide-ide logis yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang memegang ideologi yang beragam tersebut merasa dan memahami dunia dalam suatu cara yang konsisten secara relatif. Ideologi adalah proses perwakilan bahan relasi sosial dan usaha untuk meyatakannya dalam wacana (Thwaites, Davis, & Mules, 1998). Proses perwakilan tersebut melalui pembentukan tanda-tanda yang tampak jelas dan umum yang merupakan bagian dari struktur sosial (kelompok dan institusi). Fiske melalui teori kode televisinya mengatakan “a rule-governed system of signs, whose rules and conventions are shared amongst members of a culture and which is used to generate meanings and for that culture” (Fiske, 1987).
Ideologi adalah suatu tanda logis yang penuh kekuatan dari cara-cara masyarakat dalam berperilaku dan memformulasikan kepercayaan-kepercayaan. Ideologi memiliki kekuatan untuk membentuk atau mengkonstruksi suatu konteks sosial dalam masyarakat melalui interaksi antara pengirim dan penerima teks (Thwaites, Davis, & Mules, 199
. Dalam penelitian ini ideologi patriarki adalah konsep yang penting bagi masyarakat Jawa karena campursari yang dipopulerkan oleh Didi Kempot menggambarkan masyarakat Jawa dan budaya patriarki, Didi Kempot sendiri adalah bagian dari masyarakat Jawa. Bhasin menjelaskan bahwa kata patriarki secara harafiah berarti kekuasaan bapak atau “patriakh (patriarch)”. Pada awalnya patriarki digunakan untuk menyebut suatu jenis “keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki”, yaitu rumah tangga besar patriarch yang dikuasai oleh laki-laki (Bhasin, 1996, p.1). Secara detail, patriarki merujuk pada sebuah bentuk organisasi rumah tangga dimana laki-laki mendominasi anggota keluarga yang lain dan mengontrol produksi ekonomi rumah tangga. Patriarki dipandang sebagai ideologi bagaimana laki-laki mendominasi. Masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang dimana laki-laki memiliki kekuatan dan kontrol. Perempuan biasanya dieksploitasi, dirugikan dan mempunyai status yang lebih rendah.
Stereotip Kultural dan Representasi Kultural
Representasi, adalah istilah yang digunakan untuk menandakan kehadiran atau ketidakhadiran orang atau warna media, penggambaran konstruktif atau non konstruktif. Pada definisi lainnya,
“The process, and the products, that gives signs their particular meaning is representation. Through representation, abstract, and ideological ideas are given concrete form” (Sardar, Z., & Vanloon, B.,2003, p.13)
Rudytard Kipling (1865-1936) dan E.M.Foster (1879-1970) menggambarkan orang-orang Indian dalam novelnya sebagai “cowards”, “effeminate”, dan “untrustworthy”. Semua hal yang berkultur non-barat (kultur maupun peradaban) dipandang sebagai “The Other of The West”. Dalam masyarakat barat, perempuan, imigran, dan homoseksual seringkali dipandang sebagai “The Other of The West”. Representasi yang sangat umum dari “bagian yang lain dari Barat” adalah sisi gelapnya. Ketika bangsa Barat berpikir mereka beradab, maka “The Other” adalah barbarian, kolonis giat bekerja tetapi penduduk asli malas, heteroseksual baik dan bermoral sementara homoseksual tidak bermoral dan jahat.
Dalam prakteknya, laki-laki dan perempuan telah direpresentasikan oleh media massa sesuai dengan stereotip kultural yang mereproduksi peran gender. Laki-laki selalu ditampilkan dominan, aktif, agresif, otoratif, pemimpin, suka mengambil tantangan dan mandiri. Laki-laki memerlukan berbagai macam peran penting yang membutuhkan profesionalisme, efisiensi, rasionalitas dan kekuatan untuk menjalankan pekerjaannya dengan sukses. Sebaliknya, perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tersubordinasi, pasif, menyerah, tunduk, patuh, dan marjinal, serta melakukan pekerjaan yang tidak terlalu penting dan tidak menarik sebagaimana tercirikan dalam seksualitasnya, emosinya dan domestifikasinya.
Berdasarkan sifatnya, organ tubuhnya dan organ reproduksinya, laki-laki dikatakan perkasa, lebih kuat daripada perempuan sehingga laki-laki lebih bersifat tegar, kuat, jantan bahkan kasar. Sedang perempuan sebaliknya, perempuan bersifat halus, penyabar, keibuan dan lemah lembut. Berdasarkan peran, perempuan memiliki jiwa feminin berperan di sektor domestik (memasak dan merawat anak) sedangkan laki-laki yang maskulin berperan di sektor publik (mencari nafkah dan memberikan perlindungan terhadap keluarga).
Representasi perempuan secara kultural dalam media massa dipandang sebagai pendukung untuk melanjutkan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan kelanggengan konsep feminitas dan maskulinitas. Penghancuran perempuan secara simbolis dipraktekkan untuk mengkonfirmasi bahwa peran istri, ibu dan ibu rumah tangga adalah nasib perempuan di dalam masyarakat patriarkis. Perempuan disosialisasikan melalui media untuk melakukan peran-peran tersebut. Seolah-olah representasi kultural tersebut mengkonfirmasi perolehan hak istimewa mereka sebagai perempuan.
Sependapat dengan Tuchman, Modleski menyatakan bahwa perempuan diposisikan sebagai pihak yang bertanggungjawab dengan efek-efek budaya massa yang merugikan sementara laki-laki bertanggungjawab terhadap kesenian adiluhung –high culture-. Terlebih perempuan dianggap bertanggungjawab atas munculnya budaya massa.(Strinati, 2004, p.219). Budaya massa (budaya pop) yang diletakkan lebih rendah dibandingkan kebudayaan adiluhung tidak terlepas dari sifat-sifat feminin dan maskulin.
Tabel (1): High Culture-Mass Culture
|
High Culture (Art)
|
Mass Culture (Popular Culture)
|
|
Masculinity
|
Feminity
|
|
Production
|
Consumption
|
|
Work
|
Leisure
|
|
Intellect
|
Emotion
|
|
Activity
|
Passivity
|
|
Writing
|
Reading
|
Sumber: Strinati, 1995, p.191
Budaya pop tidak bisa dilepaskan dari gender dan konstruksi yang membentuk konsep gender tersebut. Terlebih pada struktur masyarakat Indonesia, ideologi patriarki masih sangat kuat. Sehingga perempuan berada pada posisi inferior dibandingkan laki-laki sehingga perempuan seringkali dinihilkan, dikecilkan, dimarjinalkan.
Semiotika: Membaca Kultur Jawa Melalui Kode Sosial
Semiotika adalah studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Menurut Fiske, semiotika mempunyai 3 bidang studi utama yakni tanda itu sendiri, kode atau sistem yang mengoperasikan tanda, dan kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Bagi Saussure, tanda terdiri dari suara dan gambar, disebut ‘signifier’ dan konsep suara dan gambar yang sampai dipikiran, yang disebut ‘signified’. Dalam ‘Media and Communication Reserach Methods’ Berger menggambarkan konsep tanda menurut Saussure dalam tabel dibawah ini:
Mengutip Saussure, “words are signs, but so are other things, such as facial expressions, body language, clothes, haircuts” (Berger, 2000, p.37). Lirik lagu adalah salah satu jenis tanda. Semiotika memusatkan perhatiannya pada tanda –teks-. Teks bukanlah merupakan susunan yang sama jenisnya dimana hanya berisi sebuah pengertian, tetapi teks terdiri dari tanda-tanda yang berlainan yang memiliki banyak arti.
Dalam penelitian ini, teks juga disajikan dalam bentuk metafora. Metafora adalah “A word or image may be used symbolically, to represent something else entirely, something with which it has certain features in common.” (Marshall & Werndly, 2002, p.32). Metafora diwujudkan dalam bentuk eksplisit adalah bentuk simile, yang menunjukkan perbandingan. Namun metafora juga diekspresikan tanpa penghantar misalnya ‘hati yang patah’.
Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Parangtritis:
Ruang Publik Penawar Romansa Kelas Menengah Kebawah
Lagu-lagu yang diciptakan Didi Kempot banyak menggunakan setting ruang publik, misalnya: Stasiun Balapan[i], Terminal Tirtonadi[ii], dan Parangtritis[iii]. Stasiun Balapan[iv] adalah stasiun kereta api yang sangat terkenal di kota Solo, Stasiun Balapan adalah ikon yang sangat melekat pada identitas kota Solo.
Ning Stasiun Balapan
(di Stasiun Balapan)
Kutha Solo sing dadi kenangan
(Kota Solo yang menjadi kenangan)
Sumber: Lagu: Stasiun Balapan, (IMC Duta Record (Produser). (2006). Koleksi emas Didi Kempot [CD]. Jakarta: IMC Duta Record).
Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi adalah setting yang menunjukkan bahwa lagu Didi Kempot menggambarkan lelaki yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Kereta api dan bus adalah salah satu alat transportasi yang sangat merakyat dan digunakan oleh banyak orang. Kereta api dan bus adalah sarana transportasi yang harganya mudah dijangkau oleh mereka yang tidak berkocek tebal. Sedangkan Pantai Parangtritis adalah setting yang juga menggambarkan masyarakat kelas ekonomi bawah. Keindahan pantai Parangtritis dapat dinikmati dengan gratis oleh setiap pengunjungnya. Pengunjung pantai tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menikmati keindahan pantai. Pantai adalah setting romantis yang dijual dengan harga yang murah.
Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi, menjadi tempat publik yang penting yang menggambarkan akses keluar masuk kendaraan, hilir mudik kendaraan (pulang dan pergi). Demikian Didi Kempot menjadikan Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi simbol perasaan, perasaan bahagia (ketika menunggu dan akhirnya menemukan orang yang dijemput) dan sebaliknya, perasaan sedih (ketika harus berpisah dengan orang yang dekat di hati).

Sementara itu Parangtritis[i] adalah pantai yang sangat terkenal di Yogyakarta dan sekitarnya. Pantai ini terkenal dengan sejarah dan kekuatan magisnya. Pantai ini erat dengan nilai budaya Jawa kendati sering digunakan untuk prosesi adat Jawa (http://id.wikipedia.org/wiki/parangtritis, 26 Februari 2007). Pantai ini hampir tidak pernah sepi pengunjung, banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung. Pertemuan sosok lelaki Jawa (dalam lagu Didi Kempot) dengan seorang perempuan cantik tidak terelakkan.
Pantai, gunung dan beberapa wisata alam lainnya dipilih oleh Didi Kempot untuk menjadi simbol romansa. Demikian juga, pantai menunjukkan romantisme. Suasana pantai dengan deburan ombak, angin dan pasir menyodorkan sebuah perasaan khas spesial di hati. Seakan-akan manusia dihadapkan dengan kekuatan alam dan romantisme alam.
