Feed on
Posts
Comments

Ada sebuah perasaan gembira yang luar biasa ketika akhirnya aku mengenalnya lebih dari namanya, dan lebih gembira lagi ketika aku mengenalnya sebagai seorang jurnalis. Rasanya seperti bintang yang menemukan kumpulan bintang yang lain, dimana dia berasal. Mungkin karena merasa sama-sama dari background media, makanya kita bisa nyambung dan banyak berbicara.

Dari pertemuan di kelas, kemudian melampaui rutinitas setiap pagi dengan pertanyaan ritual, ‘Gutten morgen, so…… wie geht’s, Yola?’. rtemuan berikutnya dengan sedikit conversation , ketika pagi hari kita harus terburu-buru beli kopi. Seperti biasa satu gelas ‘coffee to go’, would be the starting of the day.

Entah dari mana kita memulainya, tiba-tiba kita berjalan bersama ditengah musim semi,dipinggir jalan sambil makan es krim, sedang membicarakan tentang kasus kontroversial LIDL (sebuah perusahaan supermarket di Jerman). Berbicaralah kita tentang artikel dan pandanganya tentang kasus itu, maklum karena sama-sama kritisnya, berbicaralah kita tentang film, novel, hidup dan juga cinta dan filosofi lainnya.

Aljamous, itulah namanya. Pemuda berasal dari Syria, Damascus ini datang ke Jerman setahun setengah yang lalu, dan kemudian semenjak sertahun belakangan ini ia duduk bersama di kelas belajar bahasa. 9 tahun ia malang melintang di Dubai, bekerja sebagai editor in chief untuk sebuat surat kabar. Profil yang cukup menarik, dan tentunya pengalamannya di media juga sudash cukup banyak. Media dan jurnalisme itu mungkin yang membawaku mengenal dia, sampai persahabatan datang pada kami.

Dalam beberapa kondisi kami berbagi ‚common problem’ yang sama bahwa kami memiliki pengalaman dan pendidikan, namun tanpa bahasa kami tidak bisa bekerja. Apalagi dalam dunia jurnalistik, seseorang diwajibkan untuk memiliki tingkat bahasa yang tinggi (‚hoch Deutsch’, kata orang). Untuk bekerja di media dan juga di pendidikan, tentunya kami membutuhkan bahasa jerman yang baik dan berstandart. Anyway, itu bukanlah sebuah masalah yang mengecilkan hati kami, kami melihatnya sebagai sebuah tantangan.

Dengan Aljamous, aku belajar lagi mengenai hidup dan kenyataan bagaimana orang yang lebih tidak mampu dari kami berjuang utnuk hidup. Tak hanya perihal kehidupan dan keindahan sastra, tetapi juga belajar politik. Aku yakin persahabatan ini masih terus berjalan dan saat ini kami belajar menjadi sahabat. Saat ini ‚sahabat’ menjadi kata yang sangat penting buatku, karena aku hidup di belantara kota yang serba personifikasi dan cuek.

Enam bulan lamanya, aku mengenal perempuan muda ini. Datang jauh dari Rusia karena ia menikah dengan pria warga negara Jerman. Bedanya ia sangat muda sekali, masih baru 24 tahun. Cantik, rambut sebahu, rambutnya coklat, tinggi, setiap lelaki memujinya sebagai perempuan yang seksi. Asiknya apartemen kami sangat dekat, sehingga kami sering minum kopi bersama, ngobrol tema sehari-hari, berbagi cerita dan mimpi.

Setelah mengikuti sekolah bahasa 600 jam, ia mulai menemukan beberapa persoalan klasik. persoalan pertama, tentang pendidikan. Ia tidak memiliki pendidikan yang cukup untuk mulai bekerja. pekerjaan terakhirnya adalah waitress di cafe. tentunya pekerjaan ini bukanlah pekerjaan white collar workers. secara teknis setelah siswa selesai tahapan sekolah akhir mereka bisa memilih jika mereka ingin mengambil “Ausbildung” (semacam pratikum di perusahaan, selama 4 tahun) atau belajar di universitas.

Pilihannya tentu tidak terlalu banyak tetapi akhirnya ia disarankan untuk mengambil arah Ausbildung oleh Arbeitsamt (badan yang membantu orang untuk bekerja). menurut Arbeitsamt, ia akan menerima sekitar 200 euro tiap bulan sebagai pekerja di perusahaan pratikumnya. Which sounds good… pada saat itu kabar ini adalah sebuah angin segar buat telinga imigran.

Pada kunjungan berikutnya di Arbeitsamt, ia diberi banyak kertas untuk diisi. kemudian ada statement yang tertera didalamnya, bahwa ia akan menerima 200 euro (uang bantuan dari pemerintah) jika suaminya telah bekerja di jerman minimum 4 tahun. Tentunya fakta ini tidak terlalu bagus baginya karena suaminya selama ini bekerja di Austria, dan baru saja memulai karirnya di jerman (dalam hitungan bulan). Sehingga … pertanyaannya, pilihan apa yang dia punyai?

“Tidak ada pilihan”.

ini adalah sebuah kondisi yang cukup pelik ketika suaminya mempunyai pendapatan yang mepet. belum lagi dari ceritanya, mereka juga harus membayar permanent cost (apartemen, dll), kredit mobil, dll. Sekolah lagi juga bukan tema mereka saat ini. bekerja adalah kebutuhannya. tapi sayangnya dengan catatan serupa ia tidak bisa langsung bekerja, kecuali jika ia ingin kerja sambilan tanpa asuransi (400 euro per bulan).

Never be good, tapi begitulah kisah imigran, we still build our dream !

May adalah seorang perempuan muda, arround 30ies. Secara optik, dia memiliki keindahan oriental yang sangat memikat hati. Ia memliki sepasang mata yang tajam, dan ia selalu berpakaian etnik. Rambutnya coklat, kdang dia biarkan panjang mengurai kadang dia sanggul rambutnya. Keinginannya saat ini adalah untuk belajar bahasa jerman, ia ingin berbicara bahkan mungkin mimpi dalam bahasa Jerman. dari warna kulit dan postur wajah ia adalah representatif dari bangsa Turki (walaupun dia tidak memiliki rambut blode dan mata biru).

Pernikahannya membawanya ke Jerman, walaupun sebelumnya dia pernah menggelar beberapa kali exhibition di Jerman. Ia menikah dengan seorang warga negara Turki yang telah lama 14 tahun hidup di Amerika. Suaminya adalah salah satu yang disebut “anak Turki yang brilliant”. Banyak orang menyebutnya dengan “a tallented kid”, “a gifted kid”. Semasa muda ia dikirim ke Amerika, untuk belajar disana. Kemudian direncanakan untuk kembali ke tanah air dan melakukan penelitian, memberikan daya dan upaya untuk membangun kembali turki. tetapi ternyata ia menemukan sesuatu di Amerika dan ia tidak ingin kembali ke turki, kemudian untuk beberpaa tahun lamanya dia harus bekerja keras untuk mengembalikan grant sebesar 35.000 euro yang telah dikeluarkan oleh universitas Turki tersebut.

Tersebutlah beberapa bilangan tahun dihabiskannya di Amerika,hanya untuk mengembalikan freedom. tak terhitung berapa banyak pil yang sudah diminumnya hanya untuk menenangkan nervesnya. 24 jam kerja dan bekerja seperti kerbau tanpa mengenal batas waktu. akhirnya setelah ia mampu membeli freedomnya kemudian ia bekerja untuk sebuah perusahaan ternama, Mercedes. Dan kemudian sampailah ia di Jerman.Pertemuan di salah satu pameran seni May itu akhirnya membawa mereka pada perkenalan dan percintaan. Akhirnya mereka menikah di Jerman dan sampai saat ini (6 bulan) mereka tinggal di jerman.

Cerita imigran satu dan yang lainnya berbeda, contohnya May, yang sudah mempunyai pekerjaan yang nyaman di Turki sebagai seniwati, dan saat ini ia boleh bekerja di jerman tampaknya harus bersabar meniti karir dari awal. Karyanya sudah banyak dipamerkan dan terjual di berbagai pelosok dunia, sebut saja India, jerman dan beberapa negara lain yang tidak sempat ku catat. Tapi karya dan talentanya tidak dapat diremehkan. Ia adalah seniwati yang sudah mempunyai kredibilitas, karyanya juga diliput di koran dan media massa lainnya. Namun beginilah cerita seorang imigran yang mungkin tidak beda jauh dari yang lain, tanpa bahasa (bahasa Jerman) seseorang tidak mungkin bisa bekerja di negara ini.

Sebagai negara dunia pertama, jerman menyadari bahwa banyak orang yang ingin mempergunakan kesempatan untuk hidup dan bekerja di Jerman. Entah mungkin mereka berpikir bahwa negara Jerman menawarkan “kenyamanan”. Gelombang imigran yang semakin besar, mengkhawatirkan pihak jerman (sepertinya). Mereka saat ini mempunyai program integrasi yang mengharuskan tiap imigran untuk ikut kelas bahasa selama 600 jam dan kemudian setiap imigran juga harus lulus dari ujian bahasa level dasar. Program integrasi, yang diyakini menjadi kunci bagi imigran untuk menjadi bagian dari negara ini, kelihatannya memang menarik dan simpatik, tapi sebenarnya bagaimana program ini dilihat dari kaca mata May, seniwati Turki ini ?

Program integrasi memang indah tampaknya, tetapi secara politis program ini hanya menambahkan “what to do list” imigran, untuk membuat hidup mereka semakin “complicated”. seharusnya jika kita bersiap untuk bermigrasi ke suatu tempat maka seharusnya kita menguasai sedikit bahasanya. Dalam kasus May, ia sadar bahwa ia akan hidup di jerman, maka ia telah mengkursuskan dirinya untuk paling tidak berbicara sedikit bahasa jerman.

Program integrasi ini disodorkan untuknya karena suaminya bekerja untuk salah satu perusahaan Jerman. Dengan status kerja suaminya maka May juga mengantongi hak bekerja yang sama. Suaminya harus bekerja untuk rentang 2-3 tahun pada perusahaan yang sama, kemudian ia dapat mendapatkan passport Jerman. Dengan ketentuan yang sama May juga mendapatkan hak kerja yang sama. Tapi apakah artinya hak kerja tersebut ? “Nothing”……

May “dipaksa” untuk mengikuti program integrasi, walaupun ia menyatakan dengan jelas bahwa ia ingin menyeponsori dirinya sendiri untuk sekolah. bahwa ia datang ke jerman dengan penuh kesadaran, bukan sebagai individu yang ingin menjadi benalu bagi negara ini. Tapi peraturan ini tetap diberlakukan untuknya.

Setinggi karir apapun yang kita miliki, setinggi apapun sosial status yang pernah kita miliki, sebanyak apapun titel pendidikan yang kita miliki, … tetap bahasa harus dikuasai. Mungkin inilah bagian sedihnya, bahasa menjadi sesuatu yang menantang kehidupan imigran, tetapi ketika bahasa menjadi salah satu alasan politis mengapa kita tidak bisa leluasa bekerja, maka seorang imigran harus berperang “dobel”.

Sampai detik ini, ketika tulisan ini dihadirkan, May masih membangun harapannya untuk menemukan galeri untuk karyanya, dan ia juga bersama kami, sesama imigran, membangun mimpi dan berjuang untuk hidup.

Schöneheit

Gibran, Khalil Gibran sagte, “Schönheit scheint heller im Herzen dessen, der sich danach sehnt, als in den Augen dessen, der sieht“.

Ich bin einverstanden, mit dem was Khalil Gibran gesagt hat. Die Augen zeigen nur die optische Schönheit, aber unser Hertz kann die Schönheit fühlen. Sie können schöne Strände, Berge, Himmel sehen und fühlen, dass die schön sind. Es gibt auch schöne Menschen, die optisch unterschiedlich schön sind. Aber Gibran meint dass die richtige Schönheit länger im Hertz bleibt. Z.B., wenn wir einen schönen Strand besucht haben, dann behalten wir diesen schönen Strand länger in unserem Hertzen, als wenn wir Bild von einem schönen Strand in einer Zeitschrift sehen.

Manch einer sagt eine Frau ist schön, wenn sie z.B. schöne Augen, Harre, Beine oder schöne Kleidung hat. Sie vermutlich sieht wie “Barbie“ aus. Aber die optische Schönheit bleibt nicht so lange. Wenn eine Frau positive Charaktereigenschaften hat, sie ist schöner als die Barbie. Es ist schöner wenn jeder Mensch selbstbewusst und selbstsicher wäre und realisieren würde, dass er einzigartig ist. Jeder hat Chance um seine eigene Schönheit selbst darzustellen.

Ich glaube, es gibt keine richtige Bedeutung für Schönheit, weil Schönheit immer subjektiv ist und häufig durch äußere Einflüsse wie Kulturen und Medien bestimmt werden. Heute kann man operiert werden, um nach vermeintlichen Schönheitsidealen und Jugendwahn noch schöner, hübscher und attraktiver zu sein. Meine Freundinnen müssen viel arbeiten und viel Geld verdienen um z.B. Ihre Brüste, Augen und Nasen zu operieren. Ich kann mir nicht vorstellen was ich machen soll, wenn ich kein Geld habe und den Schönheitsidealen entsprechen will. Ich stelle die frage, “Bin ich hübsch, wenn ich nicht ideal bin?“. Natürlich bin ich hübsch, weil ich natürlich schön bin.

“Rahasia Jodoh”

Posting ini dipersembahkan khusus buat mereka yang mencari tahu rahasia perjodohan dan yang masih mencari “belahan jiwa”nya.

Sebagaimana cinta dan perjodohan menjadi berkah yang tak terkira dariNya dan juga sekaligus rahasiaNya.

Diriku belajar dari Rumi dan juga Gibran tentang sederhananya berjodoh
dengan cinta, lebih dari itu aku belajar keras dari pengalaman hidupku dan tentunya campur tanganNya.

Selamat menyimak puisi Gibran, ”Pandangan Pertama” dan klip
“Rahasia Jodoh”, semoga pembaca menemukan kebenaran sederhana.

…..
PANDANGAN PERTAMA
(oleh:Kahlil Gibran)

Itulah saat yang memisahkan aroma kehidupan dari kesedarannya.

Itulah percikan api pertama yang menyalakan wilayah - wilayah jiwa.

Itulah nada magis pertama yang dipetik dari dawai - dawai perak hati manusia.

Itulah saat sekilas yang menyampaikan pada telinga jiwa tentang risalah hari - hari yang telah berlalu dan mengungkapkan karya kesedaran yang dilakukan malam, menjadikan mata jernih melihat kenikmatan didunia dan menjadikan misteri - misteri keabadian didunia ini hadir.

Itulah benih yang ditaburan oleh Ishtar, dewi cinta, dari suatu tempat yang tinggi.

Mata mereka menaburkan benih didalam ladang hati, perasaan memeliharanya, dan jiwa membawanya kepada buah - buahan.

Pandangan pertama kekasih adalah seperti roh yang bergerak dipermukaan air mengalir menuju syurga dan bumi. Pandangan pertama dari sahabat kehidupan menggemakan kata - kata Tuhan, Jadilah, maka terjadilah ia.

Rasanya sayang sekali kalau sudah sampai di Jogjakarta tapi belum mampir ke Candi Ratu Boko. Hanya 3 km dari pertigaan ke Perambanan. Candi Ratu Boko yang juga dikenal dengan nama Istana Ratu Boko ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari candi-candi yang lain.

Kesan pertama yang kurasa adalah rasa damai, Candi Ratu Boko terletak diatas

sebuah bukit yang sepi. Rasa takjub itu tak habis habisnya kurasakan. pemandangan ribut riuh kota Jogjakarta dan Candi Prambanan berlatar Gunung Merapi dapat kunikmati dari puncak bukit kecil itu. Tentunya dengan angin semilir bukit yang semakin menambah kenikmatan alam.

Nama Kraton Boko berasal dari kata Kraton dan Ratu Boko. Kraton berasal dari kata Ka-da-tu-an yang berarti tempat raja. Ratu Boko berasal dari Ratu yang berarti Raja dan Boko adalah nama seekor burung.

Gapura

Tiba di lokasi candi ini maka bangunan candi pertama yang tampak adalah pintu gerbangnya. Bangunan kelompok pertama ini terdiri atas 3 pintu gerbang yang saling berdekatan, membujur dari utara ke selatan. Pintu gerbang yang di tengah adalah yang terbesar dan merupakan pintu gerbang utama yang diapit oleh dua pintu gerbang lainnya yang disebut gerbang pengapit. Kemudian menyusuri pintu gerbang pertama, anda akan menemui pintu gerbang kedua. tak jauh dari situ anda akan menemukan candi pembakaran. ditempat itu biasanya jenasah dibakar. didekatnya juga ada kolam.

Jika dilihat dari segi bangunan candinya, candi ini berbeda dengan candi borobudur juga candi Prambanan. Candi ini lebih merepresentasikan tempat tinggal tidak juga banyak tertinggal tumpukan batu yang tinggi seperti di candi-candi yang lain. Tetapi tetap menurutku candi ini adalah candi yang memberikan kesan spesial, kesan romantis mistis agraris.

candi

Sore itu aku duduk di undak undak candi pembakaran. tempat yang cukup tinggi untuk menikmati pemandangan matahari tenggelam.  Hanya suara angin yang terdengar, ditemani kegagahan dan kesunyian gapura-gapura Ratu Boko. Matahari menantang, aku menikmati sinarnya. Gunung Merapi mejadi latar yang indah sore itu, dikerudungi oleh asap dan awan yang tebal. Candi Prambanan tampak dari kejauhan, cantik berdiri. Aku bersyukur atas berkah ini, menikmati indahnya alam Ratu Boko. Senja itu semakin lengkap dengan segelas kopi dan tentunya lagu almarhum Chrisye… “kala surya tenggelam”…

malam

Istana Ratu Boko ini adalah pilihan yang sangat sempurna jika anda adalah penikmat alam sejati. Mungkin bisa aku lukiskankan bahwa ini adalah senja terindah di Jawa.

me  me 2  me 3

INDONESIEN
“Diktator Suharto ist tot”

Jahrzehntelang regierte er Indonesien mit eiserner Hand und führte das Land in die Moderne. Tausende Missliebige und Andersdenkende wurden während seiner Gewaltherrschaft getötet. Heute ist der einstige Diktator Hadji Mohammed Suharto im Alter von 86 Jahren gestorben.

Jakarta - Seit seinem Abtritt von der Macht im Jahr 1998 lebte der “lächelnde General”, wie ihn westliche Medien gerne nannten, zurückgezogen in seiner Residenz in Jakarta. Während seiner jahrzehntelangen Herrschaft prägte er das Land wie kein anderer Politiker. Doch die Zeit des Aufschwungs wurde von den späteren Jahren seiner rücksichtslosen Herrschaft verdunkelt. Suharto wird als brutaler und korrupter Staatschef in Erinnerung bleiben - auch wenn er sich einer Strafverfolgung immer entziehen konnte.

Suharto

Ex-Diktator Suharto: Er führte Indonesien mit harter Hand
Suharto musste in den vergangenen Jahren mehrfach stationär behandelt werden, unter anderem wegen eines Herzleidens. Kritiker hatten jedoch immer wieder darauf hingewiesen, Suharto sei nicht so krank, wie er behaupte, sondern wolle sich nur dem Korruptionsprozess entziehen. Mit einem ärztlichen Attest hatte er im Jahr 2000 erreicht, dass ein Prozess wegen der Veruntreuung von umgerechnet rund 387 Millionen Euro aus öffentlichen Geldern ausgesetzt wurde.

Im September vergangenen Jahres jedoch wurde ein weiterer Prozess gegen ihn eröffnet. Die Justizbehörden forderten umgerechnet knapp eine Milliarde Euro von ihm zurück, die er als Präsident über dunkle Kanäle beiseite geschafft haben soll. Dieses Geld werden sie nun nicht mehr eintreiben können.

Der 1921 als Sohn einer Bauernfamilie auf Java geborene Suharto begann seine Karriere in der niederländischen Kolonialarmee in Indonesien. Während des Zweiten Weltkriegs kämpfte er gegen die japanische Besatzung, nach der Unabhängigkeit des Landes 1945 stieg er rasch in der Militärhierarchie auf. In den sechziger Jahren wurde er General.

Überzeugter Anti-Kommunist

Ins politische Rampenlicht trat Suharto 1965 durch seine maßgebliche Rolle bei der Niederschlagung eines angeblichen Putschversuchs von Kommunisten. In der Folge wurden mehrere Hunderttausend angebliche oder tatsächliche Mitglieder der Kommunistischen Partei hingerichtet. Als Armee-Oberbefehlshaber und Verteidigungsminister verdrängte er mit immer weiterreichenden Befugnissen den kränkelnden Präsidenten Sukarno schrittweise von der Macht.

Nach seinem offiziellen Amtsantritt als Präsident 1967 setzte Suharto stets alles daran, selbst am Schalthebel der Macht in dem riesigen Archipel mit rund 17.000 Inseln zu bleiben. Die Ränge der mächtigen Streitkräfte des Landes besetzte Suharto mit Gefolgsleuten. Über die Grenzen seiner Golkar-Partei hinaus nahm er auf die Führung der oppositionellen Demokratischen Partei Indonesiens (PDI) Einfluss, die Medien wurden strenger Kontrolle unterstellt.

Sympathien im Westen

Mit seiner antikommunistischen Haltung gewann Suharto außenpolitisch die Sympathien der USA. Der zurückhaltend und freundlich auftretende Präsident verschaffte sich auch in anderen Ländern der westlichen Welt Sympathien, in Deutschland gewann er die Freundschaft von Altbundeskanzler Helmut Kohl (CDU). Bei Menschenrechtlern stand Suharto hingegen in der Kritik. Sie warfen ihm im Zusammenhang mit dem Einmarsch in das nach Unabhängigkeit strebende Osttimor im Jahr 1975 Völkermord vor. In dem auf die Besatzung folgenden 25-jährigen Bürgerkrieg starben Schätzungen zufolge 200.000 Menschen.

Unter Suharto erlebte Indonesien auch einen rasanten Wirtschaftsboom, der dem Präsidenten den Beinamen “Vater des Aufschwungs” einbrachte. Er baute die Erdöl- und Gasproduktion sowie die Textilindustrie des landwirtschaftlich geprägten Landes aus. Das Bruttoinlandsprodukt pro Kopf stieg von 50 Dollar bei seinem Machtantritt auf etwa tausend Dollar vor Beginn der Asien-Krise 1997. Doch als der Kurs der Landeswährung Rupiah in der Folge ins Bodenlose stürzte, geriet Suharto unter Beschuss. Nach anhaltenden Studentenprotesten musste er am 21. Mai 1998 zurücktreten.

mik/AFP/dpa/Reuters
*) berita diambil langsung dari www.spiegel.de, pada tanggal 27 Januari 2008

(lanjutan …)

- Semua pertokoan di Jerman tutup di akhir pekan. Beberapa dari mereka hanya buka setengah hari di hari Sabtu, sementara semuanya tutup di hari Minggu. Ini adalah fakta yang menyulitkan banyak orang asing, karena mereka harus menyesuaikan diri dengan kultur ini. Dahulu semua toko selalu tutup di hari Sabtu, namun dengan perkembangan sosial akhir-akhir ini, beberapa pertokoan mempertimbangakan untuk buka lebih lama di hari Sabtu. Contohnya, ada juga supermarket yang buka di hari sabtu sampai jam 22.00. Pada hari biasa juga beberapa supermarket memutuskan untuk buka lebih lama sampai jam 22.00 (biasanya semua pertokoan tutup pada jam 20.00). Namun disisi yang lain banyak pengusaha yang juga merasa kebijakan ini membawa ketidakberuntungan, karena hanya ada sedikit pengunjung di jam-jam tersebut. sebaliknya, di Rusia ada toko yang buka 24 jam. Jadi enak hidup di Rusia atau di Jerman ya ?

- tentang pengobatan, orang Afrika lebih percaya pada pengobatan tradisional daripada pengobatan moderen. Pada jaman sekarang ini mereka masih segan dan tidak percaya dengan dokter danpengobatan moderen.

-tentang tahun baru di Philipina, mereka mengumpulkan 12 macam buah berbeda yang mewakili 12 bulan yang berbeda, untuk mendapatkan keberuntungan di tahun yang baru.

-”die Ruhe ist heilig” …. tahukah anda bahwa jam 12.00-15.00 adalah jam tidur siang dimana penghuni apartemen tidak boleh berisik (tidak terjadi di setiap tempat, namun biasanya peraturan ini terdapat di lingkungan yang banyak anak kecilnya). bahkan juga ada peraturan yang lebih strict setelah jam 19.00, orang tidak boleh membuang botol gelas di tempat pembuangan botol… (soalnya berisik!)

- di Philipin, yang mengajak keluar adalah yang membayar makanan.

- orang Turki mempunyai kekerabatan yang cukup tinggi, mereka saling bantu satu dan yang lainnya. jika sanak atau teman sakit maka mereka akan mengumpulkan uang untuk membantu pengobatannya. kehidupan di jerman lebih individual, maka sering terjadi orang meninggal sementara tetangganya tidak tahu, jadi setelah 3/4 hari, setelah membusuk, barulah kita tahu kalau tetangga sudah meninggal. Jadi sering-seringlah mengenalkan diri pada tetangga atau orang yang tinggal di bangunan apartemen anda !

Fakta-fakta itu dikumpulkan dari cerita teman-teman di kelas. Menarik bukan menjadi bagian dari kelas multikultur ini ? Semakin banyak kita mau mengamati kebudayaan yang berbeda, maka semakin kayalah kita.

Tentunya menarik jika kita belajar beberapa kebiasaan dari orang-orang dengan budaya yang berbeda. Pengalaman ini menjadi sesuatu yang berharga buatku yang selama ini hanya mengenal orang Indonesia atau sedikit orang dari berbagai benua. Hari ini kita membicarakan tentang “prejudice”, tentang penilaian kita sebelum kita datang ke Jerman. Pemikiran seperti apa atau ekspektasi seperti apa yang kita harapkan ketika kita hidup di negara ini. Hal ini menjadi diskusi menarik karena kelas bahasa ini cukup internasional, beberapa datang dari Asia dan Eropa, ada juga yang dari benua Afrika. Beberapa fakta budaya yang menarik ini adalah sebagai berikut:

- Berdasarkan beberapa pengamatan teman-teman di kelas, anak-anak di Jerman tidak berpakaian berlebihan sebagaimana anak-anak di Turki, Italia dan Rumania. Mereka diberi pakaian yang lebih elegan dan anggun oleh orang tuanya, namun anak-anak kecil di Jerman lebih berpakaian praktis dan sporty. Bahkan orang jerman juga terbiasa membeli pakaian second hand bagi anak-anaknya (mengingat anak-anak cepat besar dan harga pakaian anak-anak sangat mahal). Namun sebaliknya di beberapa Negara misalnya di Polandia ataupun Rusia, mereka tidak berbudaya membeli pakaian bekas untuk anak mereka, jika mereka tergolong “mampu”.

- Data di eropa menunjukkan bahwa bunuh diri sering terjadi pada saat winter (alias musim dingin) dari pada pada musim panas. Ternyata matahari memberikan efek yang sangat positif pada badan dan keaktifan tubuh, terutama pada perubahan hormone. Menarik bukan ? Bersyukurlah jika anda mendapatkan matahari setiap hari !

- Saat ini (dari winter tahun 2007 sampai saat ini) Jerman tepatnya kota Stuttgart belum mengalami musim dingin yang sebenarnya. Saat ini malahan cuaca beranjak sedikit panas. Tidak ada salju ataupun udara musim dingin yang benar-benar dingin sepanjang tahun 2007 sampai pada awal Januari 2008 ini. Mengesankan, lalu bagaimana rasanya jika lebih dingin dari minus 5 derajat Celsius ? Mungkin kita tidak akan keluar rumah.

- Menurut sharing teman Turki, Turki bagian bawah mengalami musim dingin yang sangat luar biasa drastis dinginnya. Pernahkah anda membayangkan dingin yang mencapai minus 33 atau 35 derajat Celcius ? bayangkan jika anda keluar dari rumah rambut dan hidung anda menjadi es. Setiap helai rambut anda mengeras seperti es. Namun anehnya dengan udara sedingin itu, masih juga ada orang yang main sepak bola, alhasil kata temanku, telinga mereka membesar dan menjadi merah, kemudian juga beberapa mengalami gangguan telinga dan otomatis telinganya rusak. Jadi mau coba ?

- Mentalitas orang Jerman adalah ego yang sangat tinggi, mereka adalah orang yang lebih melakukan kegiatannya sendiri tanpa orang lain. Mereka tidak terlalu suka kontak yang terlalu banyak dengan dunia luar. Sementara, mental orang Polandia, mereka lebih menolong orang lain. Maka itu pusat bantuan, seperti ”helping center” di Polandia tidak terlalu berfungsi karena orang menolong yang lain secara otomatis. Sementara, model pusat bantuan seperti ini berfungsi sangat baik di Jerman, karena mentalitas egoistis dan kenginan untuk lebih menyendiri yang sudah melekat di diri orang Jerman. Sementara di negara Rusia dan Ukraina, banyak orang keluar rumah bersosialisasi walaupun pada musim dingin. Kemudian mereka suka hang out dalam grup dengan jumlah besar (20 orang).

(to be continued ….)

in lingua classmates

Bikin skripsi ? siapa yang suka ? Aku rasa jika disebarkan angket mungkin semua mahasiswa tidak ada yang menyukai skripsi. Bahkan kalau bisa dihapuskan saja dari kurikulum. Pengalaman membimbing selama 2 tahun lebih kemudian juga aku sendiri dulunya pernah jadi mahasiswa ( dua kali). Maka kemudian aku mulai mengamati beberapa tren yang memang sedang menjadi pola teman-teman mahasiswa saat ini.

Banyak mahasiswa bertanya,”miss, skripsi itu kok susah ?”. jawabku enteng, ”kalo mau gampang ya ga usah sekolah.” terus mahasiswa tanya lagi, ”kenapa sih miss kok skripsi harus penelitian?”. Ya aku lagi-lagi menjawab, ”soalnya kamu anak komunikasi, dan sekarang dosen-dosennya mau tahu kamu layak lulus ga?”. Apa sih sebenarnya Skripsi itu ? apa skripsi itu mata kuliah yang sengaja membuat mahasiswa banyak yang ga lulus-lulus? Apakah mahasiswa banyak yang tidak langsung lulus karena terjerat matkul Skripsi ? Mengapa skripsi menjadi subjek yang begitu menyeramkan ? Kenapa mau lulus aja pake pingsan-pingsan di ruang sidang ? apakah skripsi selalu begitu menyeramkan ?

Tentu jawabku, ”Tidak”.

Skripsi tidak menyeramkan ketika mahasiswa memang mau belajar dan berproses. Sayangnya mahasiswa jarang memahami dan memaknai masa skripsi sebagai masa berproses. Dua hal, tidak hanya proses otak, namun juga psikologi. Of course, otak tambah canggih, sementara mental tambah dewasa. Begitulah humanity touch yang seharusnya terjadi pada tiap mahasiswa yang menempuh skripsi.

Mengapa mental ?

Karena sebenarnya proses skripsi itu adalah proses individu, yang dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan diri kita sendiri. Berhubungan dengan motivasi, dan bagaiamana kita ingin menyelesaikan skripsi kita. Berhubungan dengan mood dan bagaimana kita mengelola mood. Berhubungan dengan perasaan dan juga permasalahan keluarga atau permasalahan internal yang terjadi. Tentunya, tidak mudah. Dan 80 % mahasiswa gagal karena mental mereka kurang dewasa. Karena mereka tidak bisa mengatur emosi mereka. Coba tanya berapa dari teman anda yang skripsinya tidak rampung-rampung karena mereka tidak bisa mengontrol mood mereka, yang memutuskan tidak mengerjakan skripsinya karena menemui permasalahan atau konflik pribadi ?

Jawabanya, ”banyak”. Dan anda tidak sendiri.

Tetapi justru disitulah tantangannya, tahapan terakhir ini justru mengharuskan anda untuk mendisiplinkan diri, emngatur diri anda sendiri, berbicara dengan hati, pikirna dan kehendak anda. Apa yang anda inginkan ? cepat lulus atau menunda segalanya. Mengalahkan kehendak adalah sebuah pekerjaan besar, tetapi anda hanya bisa menyelesaikannya dengan diri anda sendiri. Mungkin orang lain bisa membantu mendengarkan komplain anda, tapi anda sendirilah yang harus berani menghadapi konflik pribadi anda.

Tidak ada orang yang suka mengerjakan sesuatu yang sulit dan kompleks, tetapi ketika kita punya satu motivasi yang positif dan kuat, maka kita bisa menyelesaikannya. Jadi mulai sekarang stop ngomel, sebaiknya anda menyempatkan waktu lebih banyak mengatur diri anda dan berbicara dengan diri anda. Selamat menyelesaikan skripsi ! Ora et Labora !

WISHING U ALL ….

Dear All,

I wish you all a great Christmas time with people you love.

I wish you all enjoy the coming holidays and the time with family.

May the peace of Christmas be with you all  :)

Love,

YDG

candle.jpgyola-nd-xmas-tree.jpgwohnzimmer.jpgchicken.jpgandrea-n-the-finger.jpgmz-yo-n-chicken.jpgmama.jpgcandle3.jpg

MENANTIKAN NATAL

1972518568krans.jpeg  159927098kerzen.jpeg

Berlin, Germany, minggu Advent keempat
NATAL TAHUN INI BUKANLAH NATALKU YANG PERTAMA KALI DI JERMAN. Natal yang ketiga kali, tepatnya. Natal adalah festifal yang sangat besar, yang tentunya dirayakan setiap orang di pelosok Jerman. Kalau di bandingkan sama seperti orang Indonesia yang merayakan Ramadhan. Natal sudah menjadi tradisi, bukan hanya dirayakan oleh umat Kristen walaupun asal sejarahnya Natal dirayakan karena mayoritas masyarakat Jerman adalah kristen. Tapi menariknya, searah dengan perkembangan jaman, teknologi dan kemoderenan, Natal tidak lagi dirayakan oleh orang Kristen. Lebih dari itu, banyak mereka yang tidak beragama merayakan Natal. Tentunya hal ini mengejutkan, tetapi untuk negara yang sangat maju dan moderen berkembang tentunya sangat dimengerti, Natal bukan lagi dirayakan dengan iman, tapi Natal sudah menjadi kultur budaya.

Biasanya pada musim dingin, orang tidak terlalu banyak bekerja di luar, sehingga kegiatan mereka kurang lebih tinggal dirumah, membuat kue, mambaca buku, minum teh aroma buah-buahan dll. Pada saat minggu advent, orang Jerman mempersiapkan natal dengan membuat kue-kue kecil, kemudian mereka tempatkan di dalam kotak kaleng kue, mereka mendekorasi rumah dengan dekorasi Natal. Berbicara tentang dekorasi, banyak dari mereka mendekor rumahnya dengan lilin, figur santa klaus. Diluar rumah mereka juga memasang lampu-lampu kerlap kerlip untuk menyemarakkan Natal. Kadang mereka membuat gambar-gambar yang identik dengan nuansa Natal, memasang lampu-lampu kecil di jendela dan dinding apartemen mereka.

adventkrans.jpg

Pada minggu adven, seperti di gereja-gereja, mereka juga mempunyai krans Natal. Krans yang berbentuk lingkaran kemudian mereka memasang lilin seiring dengan jumlah minggu advent. Tradisi yang lain adalah ’adventskalender’. Kalender advent adalah kalender dengan pintu-pintu kecil bernomer 1 – 24. tiap pintunya berisi coklat-coklat kecil. Menarik bukan ? intinya adalah Natal adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu, menghitung dari hari ke hari menuju Natal.

adventskalender.jpeg

HARI INI ADALAH MINGGU ADVENT KEEMPAT. Berarti Natal sudah dalam hitungan jari. Hari ini ada 4 lilin yang menyala di meja makan keluarga kami. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan makan malam istimewa untuk malam Natal (tanggal 24 Desember). Tanggal 24 dan 25 Desember adalah hari pentingnya, Keluarga besar akan berkumpul bersama, menghabiskan waktu bersama. Beraneka ragam kegiatan yang mereka lalukan dari yang paling standar tradisional, makan bersama sampai bermain game, pergi ke konser, dll. Intinya, adalah merayakan bersama keluarga.

Yang menarik dari tradisi Natal ini adalah apa yang dipersiapkan oleh ibu-ibu di rumah. Mereka tidak hanya membuat kue, tetapi mereka juga mempersiapkan makanan spesial untuk malam Natal dan juga Natal pada tanggal 25 Desember. Biasanya pada malam Natal, mereka mempersiapkan sesuatu yang tidak terlalu sulit. Di daerah berlin mereka mempersiapkan salad dengan kentang dan makanan utamanya adalah WURST (sosis). Semua berpakaian rapi dan sedikit berbeda dari hanya sekedar makan malam. Kemudian disela-sela makan, tentunya kita banyak bercerita dan bercanda. Setelah makan malam semua berkumpul bersama untuk membuka kado Natal. Keesokan harinya tanggal 25 Desember, kembali makan bersama bersama keluarga besar dengan menu spesial. Ada beberapa masakan spesial biasanya ada selalu salad dan kentang, ada salad khusus yang selalu kami makan setiap Natal, ”sauerkraut”. ”Sauerkraut” mempunyai rasa kecut yang khas, segarnya membuat Natal semakin menggairahkan. Makanan utama pada tanggal 25 Desember ini adalah ”turkey”, sejenis ayam ukurannya sangat besar sekali. Dipanggang dengan bumbu khas Jerman. Hmmmm…. enak sekali.

Satu hal yang menarik selama natal adalah ritual memberi hadiah. Setiap orang akan mendapatkan hadiah, tentunya di keluarga kamipun juga punya tradisi yang unik. Biasanya di malam Natal kita mendekorasi bersama pohon Natal. Pohon didekorasi, diberi mainan hiasan Natal. Kemudian setiap orang dapat meletakkan hadiahnya dibawah pohon Natal. Di keluarga kami, setiap tahunnya kami meletakkan hadiah Natal di atas meja billyard, karena kami tidak mempunyai ruangan yang cukup untuk hadiah-hadiah Natal itu. Menariknya, setiap orang punya area sendiri-sendiri. Ini adalah ide yang cukup baik jika jumlah keluarga semakin besar.

NATAL BAGI MASYARAKAT JERMAN ADALAH WAKTU BERSAMA KELUARGA. Biasanya pada saat ini keluarga berkumpul bersama, menghabiskan waktu bersama. Anak-anak datang ke rumah orang tuanya, mereka yang bekerja jauh dari rumah pulang ke kotanya. Jalanan penuh dan macet. Pertokoan sangat penuh dan orang-orang berjubel, berlomba-lomba membeli kado Natal. Diskon besar-besaran disegenap pelosok pertokoan. Itulah detik-detik terakhir untuk menyambut Natal di Jerman.

Saat ini semua orang sedang menantikan Natal, bertemu keluarga dan teman. Demikian juga aku, hari ini baru pertama kalinya aku bisa menikmati suasana dingin Natal. Diluar cuaca sangat dingin, antara 1 sampai -7 derajat Celcius, matahari bersinar. Saat ini aku sedang duduk di ruang keluarga, menikmati secangkir teh panas, lengkap dengan selimut penghangat. Menikmati hari menjelang Natal dengan lagu-lagu Natal, sesekali menikmati kue-kue Natal. Sekali lagi aku ingin berbagi semangat Natal ini kepada pembaca sekalian. SELAMAT NATAL, SEMOGA DAMAI NATAL BERSAMA ANDA SEMUA !

yul.jpg 10m.jpg movie.jpeg

“I do not want my house to be walled in on all sides and my windows to be stuffed. I want the cultures of all the lands to be blown about my house as freely as possible. But I refuse to be blown off my feet by any.” – Mahatma Gandhi

Ghandi mengingatkan kita pada apa yang disebut etnosentrisme, yang aku rasa tiap orang punya etnosentrisme hanya saja kadarnya berbeda. Teman sekelasku contohnya, perempuan Iran, umur 30 tahun, baru saja melangkah keluar dari dunia Asia kecilnya pertama kali ketika dia berumur 30 tahun karena dia memutuskan untuk menikahi pria Jerman. Pengetahuan yang dimiliki hanyalah apa yang “diabsorb” selama 30 tahun hidup di Iran, tentunya berat baginya untuk mengkolaborasikan dirinya dengan kultur budaya Barat. Kemarin kami sedang membicarakan tentang kebiasaan merokok, dan kami menanyakan jika dia juga merokok, jawabnya “no..no..no, in Iran women can not smoke yaaa…..”. Dia menjelaskan panjang lebar tentang mengapa perempuan tidak boleh merokok, karena alasan agama (pendeknya). Di kali kesempatan yang lain, kami terlibat lagi dalam sebuah diskusi, kali ini tentang tradisi berpakaian, dengan semangat luar biasa dia menjelaskan dengan cara yang berapi-api, ”in Iran….women must use Jilbab, it is a must yaaa…. And we have to wear it even in our photos yaaaa”. Segala penjelasannya selalu dimulai dengan “in Iran…” ini yang aku amati dari gaya berbicaranya. Juga dia mempunyai gaya khas bicara dengan nada penutup yang menggantung terbuka, mungkin semua orang di kelas kami sudah bisa menirukan caranya berbicara. Satu konklusi, yang kami buat yaitu dia sangat bangga dengan kulturnya. Ghandi mengatakan bahwa keinginan untuk ”being cross culture” sangatlah susah, inginnya kita membuka semua pintu yang menutup jalan untuk memahami kultur yang lain, tapi apa yang terjadi ? Kadang kala kita menolak untuk berdiri di sisi yang lain. Karena alasan ketidaknyamanan kultur !

Berbicara tentang ketidaknyamanan, aku ingin memulai dari cerita soal film yang baru saja selesai aku tonton. Judulnya, ”the King and I” buatan tahun 1956, bahkan aku sendiri belum lahir saat itu. Film ini direcycle ulang di tahun 1999, dibuat dengan ending yang lebih menggembirakan. ”The King and I” bercerita tentang Mrs Anna Leonowens dan anaknya Louis yang tiba di Bangkok, tempat dimana Anna dikontrak untuk mengajar Inggris bagi anak-anak kerajaan. Ia mengancam untuk meninggalkan ketika rumah yang telah dijanjikan tidak tersedia, namun apa daya dia mulai jatuh cinta dengan anak-anak. Seorang budak, Tuptim, dihadiahkan kepada raja Siam. Budak yang diangkat menjadi selir raja tidak bahagia tentunya karena dia tidak cinta raja, ada pria lain dihatinya yang sudah lebih dulu dia cintai. Ia menterjemahkan ”Uncles Tom’s Cabin” dalam sebuah karya balet, untuk mengekspresikan ketidakbahagiannya.Ia mencoba melarikan diri dengan pria yang dia cintai, namun tidak berhasil. Anna dan raja saling jatuh cinta, namun keangkuhan dua budaya itu mendinginkan situasi sampai akhirnya raja jatuh sakit. Anna akan meninggalkan Sian ketika ia mendengar bahwa raja akan meninggal, akhirnya ia memutuskan untuk kembali membantu pangeran, memimpin rakyat.

Film yang menyenangkan ini dari pertama sudah dibumbui dengan tarik ulur antara budaya barat dan budaya timur. Anna Leonowens adalah representasi kental dari budaya barat. Sementara, raja siam dan segenap penghuni istana adalah representasi kental dari budaya timur. Apa jadinya ketika dua budaya yang bertolak belakang ini bertemu ? Kali ini mungkin aku tidak akan membahas siapa yang menang dan siapa yang kalah, atau siapa yang lebih baik atau lebih unggul, tapi aku mencoba melihat dari kerangka Hofstede.

Power Distance
Menurut Hofstede, ”power distance” adalah suatu tingkat respect atau penerimaan dari suatu power yang tidak seimbang antara orang. Budaya dimana terdapat suatu kenyamanan dengan adanya power distance yang tinggi adalah dimana ketika beberapa orang dianggap lebih superior dibandingkan dengan yang lain karena status social, gender, ras, umur, pendidikan, kelahiran, pencapaian, latar belakang atau faktor lainnya. Sementara itu budaya dengan power distance yang rendah cenderung untuk mengasumsikan persamaan di antara orang dan lebih focus kepada status yang dicapai daripada yang disandang oleh seseorang.

Siam, salah satu negara Asia, tergolong sebagai negara yan g memiliki power distance yang tinggi, masyarakat menerima hubungan kekuasaan yang lebih autokratik dan patrenalistik. Bawahan mengenal kekuasaan orang lain melalui formalitas, misalnya posisi hierarki. Di Siam, raja adalah pemegang kekuasaan tertinggi, setiap orang akan melakukan apa yang dikatakan oleh raja terlepas dari baik atau buruknya. Salah satu dialog raja kepada Anna, ” When I sit, you sit. When I kneel, you kneel. Et cetera, et cetera, et cetera!” menunjukkan bahwa akulah raja dan Anna sebagai bawahan harus mengerti jelas bahwa ia harus mengikuti segala hal yang diperintah raja, termasuk seorang bawahan tidak boleh meletakkan kepalanya lebih tinggi daripada raja. Ia harus lebih rendah daripada raja karena secara hirarki tidak ada yang lebih tinggi dari pada raja Siam.

Hofstede mendefinisikan bukan pada perbedaan obyektif dalam mendistribusikan kekuasaan tetapi lebih pada bagaimana masyarakat melihat perbedaan kekuasaan. Bedanya dengan budaya eropa misalnya, masyarakat menerima hubungan kekuasaan lebih demokrat dan konsultatif, masyarakat menghubungkan satu dan yang lainnya kurang lebih setara dan tidak melihat posisi fomal. Bawahan merasa nyaman ketika menyampaikan permintaannya atau mengkontribusikan kritiknya pada mereka yang mempunyai kekuasaan lebih. Pembagian otoritas dan hak untuk menggunakan kekuatan dalam situasi tertentu saja.

Individualisme vs. Kolektivisme
Indivuidualisme adalah lawan dari kolektivisme, yaitu tingkat dimana individu terintegrasi ke dalam kelompok. Dari sisi individualis kita melihat bahwa terdapat ikatan yang longgar di antara individu. Setiap orang diharapkan untuk mengurus dirinya masing-masing dan keluarga terdekatnya. Sementara itu dari sisi kolektivis, kita melihat bahwa sejak lahir orang sudah terintegrasi ke dalam suatu kelompok. Bahkan seringkali keluarga besar juga turut terlibat dalam merawat.

Anna Leolowens dan budayanya merepresentasikan nilai individualisme. Orang menekankan pada pencapaian pribadi dan hak individual. Dalam budayanya diharapkan bahwa masing-masing orang dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kerjasama penting, namun setiap orang berhak memiliki opini masing-masing. Anna dalam berbagai kesempatan selalu mengungkapkan opininya secara langsung. Salah satu bagian yang menjadi favorit adalah scene ketika Anna Leonowens berdebat dengan raja Siam.

King: You will say no more!

Anna: I will say no more, because there’s no more to say!
King: You are very difficult woman!
Anna: Perhaps so, Your Majesty.

Mungkin sampai saat itu, Anna hanyalah satu satunya perempuan yang berani membantah atau berani beragumen dengan raja. Raja adalah orang yang paling disanjung tinggi selain dewa-dewa yang mereka puja di kuil mereka. Bagian yang sangat menegangkan adalah perseteruan antara raja dan Tuptim, selir yang tidak pernah bahagia. Akhirnya lelaki yang dicintanya tertangkap dan raja marah besar akan perkara ini, lelaki lain telah mencintai selirnya. Tetapi Anna memahami bagaimana Tuptim harus menderita hidup diistana tetapi tidak bahagia. Anna mengungkapkan bahwa raja tidak perlu merasa tersinggung atau tersakiti hatinya, tetapi Raja tidak bisa menerima ego diri yang terluka. Ego raja adalah segala galanya, diatas segala galanya.

Anna: This girl hurt your vanity… she didn’t hurt your heart! You have no heart! You’ve never loved anyone and you never will.

Kedua budaya yang bertolak belakang ini semakin menunjukkan kekontrasannya. Sementara Anna Leonowens menunjukkan bagaimana masyarakat barat lebih individualis, sebaliknya Raja Siam dan masyarakatnya menunjukkan nilai kolektivitasnya.

Maskulinitas vs. Feminitas
Sekalipun menurut Hofstede Jepang adalah negara yang paling maskulin, namun Siam dalam kasus ini adalah negara yang cukup maskulin juga.
Budaya maskulin adalah nilai budaya kompetitif, asertif, ambisi dan akumulasi dari kekayaan dan material. lebih menjunjung nilai-nilai assertiveness, task-orientation dan achievement. Pada budaya mereka, cenderung terdapat peranan gender yang lebih kaku dan orientasi bahwa hidup adalah untuk bekerja. Perempuan siam di dalam film ini ditunjukkan bahwa perempuan hanya mengurus rumah tangga dan perempuan tidak mempunyai banyak pilihan. Perempuan tidak mempunyai freedom untuk memilih, contohnya Tuptim, yang harus tunduk dan tidak bisa menolak ketika dirinya dihadiahkan pada raja Siam sekalipun dia tidak mencintai Raja Siam.

King to Ambassador: “These are my royal wives”
Wife: “AHHG! He has the head of a goat!”
Ambassador: “How many children do you have?”
King: “Ohh I have only 106, I am not married long”. (Ambassador stares).
King: “Expecting 5 more next month”.

Dialog tersebut menunjuukkan bahwa perempuan berperan sebagai pasangan seksual yang melengkapi pria, perempuan (walaupun kedudukannya tinggi) mereka hanya berperan melahirkan, merawat dan membesarkan anak.

Sebaliknya budaya feminin, budaya barat yang dipraktikan oleh Anna Leonowens, lebih pada hubungan dan kualitas hidup. Melihat bagaimana hubungan Anna dan raja Siam berkembang, Anna sekali lagi menekankan pada hubungan dengan kualitas yang baik. Sebagai sahabat dan guru dari anak-abak raja, Anna berusaha jujur dengan perasaannya dan juga persahabatannya. Anna tidak melihat dirinya sebagai bawahan dari raja tetapi cenderung menganggap raja sejajar, memperlakukan Raja sebagai subyek. mereka menjunjung tinggi kerjasama, nurturing dan solidaritas hubungan dengan less fortunate prevail dan mereka cenderung untuk bekerja untuk hidup.

Uncertainty avoidance
Salah satu dimensi dari Hofstede adalah mengenai bagaimana budaya nasional berkaitan dengan ketidakpastian dan ambiguitas, kemudian bagaimana mereka beradaptasi terhadap perubahan.

Umumnya, negara yang tidak menyukai ketidakpastian adalah negara Arab, neagra-negara di Afrika, dimana mereka menjunjung tinggi konformitas dan keamanan, menghindari risiko dan mengandalkan peraturan formal dan juga ritual. Kepercayaan hanyalah diberikan kepada keluarga dan teman yang terdekat. Akan sulit bagi seorang negotiator dari luar untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan dari mereka. Siam termasuk juga negara yang tidak menyukai ketidakpastian, Anna sebelumnya juga melalui proses birokrasi sebelum dirinya sampai di tanah Siam. Anna telah beberapa kali berkoresponden dengan Raja.

Sementara itu, Hofstede juga mengidentifikasi bahwa di AS, Skandinavia dan Singapura memiliki toleransi yang lebih tinggi untuk ketidakpastian. Dalam hal ini Anna Leonowens tergolong pada budaya nasional yang mudah beradaptsi terhadap perubahan. Mereka cenderung lebih bisa menerima risiko, dapat memecahkan masalah, memilki struktur organisasi yang flat, dan memilki toleransi terhadap ambiguitas. Bagi orang luar, akan lebih mudah untuk menjalin hubungan dan memperoleh kepercayaan dari mereka.
Pada saat Louis dan Anna Leonowens baru saja tiba di Siam, Louis terperanjat dengan apa yang dilihatnya,

Louis: Mother, look! The Prime Minister is naked.
Anna: Oh don’t be ridiculous, Louis. He can’t be all naked. He’s only
[looks through the telescope]
Anna: … half naked.

Anna dengan tenang berusaha menerangkan pada Louis bahwa yang dilihatnya adalah sebuah kultur yang baru, bukan sesuatu perubahan yang susah untuk diterima.

Kesimpulannya,

Kita tidak akan mempermasalahkan budaya mana yang lebih baik atau lebih beradab, tetapi film ‘The King and I’ ini memberi inspirasi dan insight bagaimana kita dapat beradaptasi dengan budaya yang baru. Kita tentunya tidak dapat lari jauh dari budaya yang sudah membentuk sebagian besar peta budaya pribadi selama berpuluh-puluh tahun, tetapi memahami konsep hofstede akan mebantu kita banyak untuk memahami kecenderungan budaya dan masyarakatnya. Paling tidak pemahaman itu akan membantu anda pada pekerjaan atau hubungan yang mengharuskan anda kontak dengan budaya yang drastis berbeda dengan budaya anda. Pengalaman teman Iran saya boleh jadi satu diantara banyak culture shock stories, tapi paling tidak anda bisa belajar lebih baik dari pengalamannya.

Melanjutkan pertanyaan retorik yang kuajukan beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005, “Apa yang terjadi jika Yesus diaborsi ?”, tahun ini kembali aku menanyakan hal yang sama. Aku rasa jika Yesus diaborsi oleh Maria dan Yusuf, maka Natal tidak lagi menjadi sebuah tradisi agama yang dirayakan, atau bisa jadi Yesus tidaklah menjadi tokoh yang begitu populer. Tidak ada yang mengenal cerita kelahiran Yesus, dan juga tidak ada perayaan kelahiran Yesus. Mungkin juga tidak akan ada yang mengenal Yesus seperti yang kita kenal hari ini.

Menyusuri kota Stuttgart yang dingin di bulan Desember, mengingatkanku pada nuansa Natal yang selalu berkonotasi dengan “salju”. Jika anda menanyakan kepada masyarakat Jerman untuk menyebutkan beberapa hal yang berkaitan dangan Natal maka sederetan ide ini akan muncul; “festifal”, “santa claus”, “baking cake”, “hadiah Natal”, “advent”, dsb.

Natal di negara dunia pertama identik dengan industri. Dua minggu sebelum Natal industri sudah mempersiapkan diri. Natal di Jerman dirayakan sangat luar biasa. Contoh kecil, Konigstrasse, kawasan shopping seperti Orchard road di Stuttgart, sudah mempersiapkan wajahnya untuk Natal. Tepat di dekat Schlossplatz dibangun sebuah ring ice skating yang dari tahun ke tahun menyedot pengunjung terbanyak. Sebelumnya semua toko dan swalayan sudah mensortir barang-barang jualannya untuk hadiah Natal. Hadiah Natal ditawarkan dimana-mana.

Salah satu icon perayaan natal secar besar-besaran yang ada di Jerman adalah “weihnachtsmarkt”, pasar Natal. Pasar natal ini menjual segala snick dan snack nuansa Natal, hadiah, bahkan apapun yang bisa menghidupkan nuansa Natal. Banyak kios kios yang menjual makanan dan minuman khas Natal, dari teh aroma Natal, gluhwein, honigwein dan berbagai macam bratwurst dapat anda nikmati. Tiap kios akan dihiasi dengan hiasan Natal dan harganya berlipat-lipat lebih mahal dari harga normal. Tapi setiap pasar Natal selalu ramai pengunjung dan tidak pernah sepi dari omzet.

Jika Natal identik dengan omset besar, banyak hadiah, kehadiran Santa Klaus, lalu dimana letak kelahiran Yesus, yang seharusnya kita imani ? Statistik yang mencengankan yaitu pengunjung pasar Natal lebih banyak daripada pengunjung gereja sekalipun itu adalah minggu-minggu Advent. Artinya, Natal hanya sederetan even yang tidak jauh beda dengan “tradisi” atau sekedar “festifal”, tidak lebih dari itu.

Berkaitan dengan pertanyaan “apa yang terjadi jika Yesus diaborsi ?”, aku lebih lega hidup hari ini jika Maria atau Yusuf mengaborsi Yesus. Menurutku, lebih baik jika Natal tidak ada daripada Natal itu eksis. Semakin aku menjejakkan kakiku jauh dari negaraku, semakin aku menyadari apa Natal bagi umat Kristiani. Semakin juga aku mengerti bagaimana Natal telah beralih arti dan fungsi. Dari kemewahan Illahi “terpelintir” menjadi kemewahan industri.

Natal seharusnya hadir dengan iman, natal seharusnya hadir untuk mengagungkan Cinta. Natal dengan segala hingar bingarnya, diskon harga dimana-mana bukan juga jawaban akan iman yang kita nanti-nantikan.

Minggu ini telah memasuki minggu advent ketiga, semua toko telah memberikan harga diskon spesial 50 % untuk semua artikel Natalnya. Kembali aku menanyakan pertanyaan retorik itu, “Apa yang terjadi jika Yesus diaborsi ?”, apakah setiap orang akan merenungkan Cinta, Sang Pencipta ? Tentu tidak semudah itu. Kenyataan historisnya, Yesus tidak diaborsi tetapi dia dilahirkan di kandang yang hina di Betlehem. Demikian juga dengan apa yang sudah hina itu masih tetap disalib ketika dia beranjak dewasa. Aku rasa jawabannya, natal hanyalah salah satu event dalam kehidupan beragama. Manusia tidak hanya menyalibkan Natal, tapi sepertinya segalanya sudah mereka “plintir” menjadi apapun yang mereka suka karena iman sudah tak mereka miliki. Tentunya, hal ini hanya kembali pada tiap pribadi. Selamat Natal !

“Terpujilah Cinta, yang menguasai bumi …
Bukan bayi Yesus yang menjadi batu sandungan,
Bukan Ibu Maria yang mengandung di luar nikah,
Bukan Bapak Yusuf yang tak bertanggung jawab,
Namun inilah kecekakan akal manusia akan Cinta.
Cinta hadir dan baharui selalu KisahNya dalam lautan manusia.”

Indonesien

Der größte Inselstaat der Erde besteht aus über 14.000 Inseln, die zwischen dem asiatischen Festland und Australien liegen. Der große Artenreichtum auf den überwiegend mit Regenwald bedeckten Inseln macht Fauna und Flora Indonesiens weltweit einzigartig. Ebenso vielfältig wie die Tier- und Pflanzenwelt sind auch die Menschen Indonesiens: 360 verschiedene Sprachen werden auf den Inseln gesprochen. “Bhinneka Tunggal Ika” - Einheit in der Vielfalt - liest man deshalb auf dem indonesischen Staatswappen. Politische und ethnische Spannungen haben Indonesien jedoch zu einem riskanten Reiseziel gemacht.

BALI

Der Legong gehört mit Sicherheit zu den prächtigsten und beeindruckendsten balinesischen Tänzen. Die aufwendig geschmückte Tänzerinnen tanzen die Geschichte eines klassischen balinesischen Epos. Der Legong ist eine Huldigung des Menschen an die Götter.

Die Insel der Götter
Ein Tanz als Huldigung an die Götter? Auf Bali eine Selbstverständlichkeit. Bali wird die “Insel der Götter” genannt, die “Insel der 1000 Tempel” - obwohl es in Wirklichkeit wohl eher an die 10.000 sind. Auf Bali sind Alltag, Kultur und Religion so miteinander verschmolzen, dass sie nicht mehr voneinander zu trennen sind. Für Europäer ist das gleichzeitig schwer nachvollziehbar und absolut faszinierend. Nicht umsonst galt die “Insel der Götter” lange Zeit als Urlaubsparadies schlechthin, als die perfekte Trauminsel, die trotz ihrer geringen Größe - Bali ist kaum größer als Mallorca - jährlich bis zu 1,5 Millionen Besucher verzeichnete.

Am 12. Oktober 2002 wurde dieses Image jedoch mit einem Schlag zerstört: Ein Autobombenanschlag im Touristenort Kuta tötete mehr als 200 Menschen, darunter viele Urlauber. Die Tourismusindustrie brach daraufhin zusammen. Viele Betriebe mussten gegen die Pleite kämpfen. Doch langsam erholte sich der Tourismus, und gut fünf Jahre nach dem Anschlag ist Bali wieder ein beliebtes Urlaubsziel.

Das Majapahit-Reich, der Islam und die Holländer
Die ersten Einwanderer kamen um 1500 vor Christus nach Bali. Es waren Südinder - und aus Indien brachten friedliche Händler auch den Hinduismus mit, der sich um Christi Geburt auf Java, Bali und anderen Inseln des heutigen Indonesiens ausbreitete. Auf Bali entstanden Königsdynastien, für kurze Zeit erreichte die Insel sogar Unabhängigkeit. Im 14. Jahrhundert war Bali Teil der großen und mächtigen Majapahit-Dynastie, die von Java aus über ein Territorium, so groß wie das heutige Indonesien, regierte. Doch im 15. Jahrhundert erreichte der kriegerische Vormarsch des Islam über Sumatra auch Java und zerschlug das einst so mächtige Majapahit-Reich. Der letzte Majapahit-König brachte sich 1478 um; sein Sohn floh mit der gesamten - hinduistischen - Oberschicht auf die Nachbarinsel und ernannte sich selbst zum König von Bali, das so zur letzten Bastion des Hinduismus außerhalb Indiens wurde, bis heute.

So entstand die Gelgel-Dynastie, unter der Kunst und Kultur eine Blütezeit erfuhren. Rund 400 Jahre blieb sie bestehen, bis die Holländer diesem Geschlecht ein Ende setzten. Anfang des vergangenen Jahrhunderts, im Jahre 1908, brachten sie in einem riesigen Gemetzel die Insel unter ihre Kontrolle. 4000 Balinesen wurden damals an einem einzigen Tag getötet, weil sich ein Großteil der damaligen Herrscher angesichts der Überlegenheit der Angreifer für den selbstmörderischen Kampf bis in den Tod entschied. Die niederländische Kontrolle währte nur kurz. Im Zweiten Weltkrieg fiel ganz Indonesien in die Hände der Japaner. Im Jahre 1945 erklärte Sukarno, Anführer der indonesischen Unabhängigkeitsbewegung, die Unabhängigkeit seiner Nation.

Das Image von der Insel Eden
“Die Balinesen sind ein grimmiges, wildes, hinterhältiges und kriegslüsternes Volk”, schrieb ein niederländischer Besucher im 19. Jahrhundert. Seither hat sich die Wahrnehmung Balis und seiner Bewohner grundlegend verändert. Die Wandlung vollzog sich in den 20er und 30er Jahren des 20. Jahrhunderts. Mit dem Ziel, die übrige Welt jene blutige Unterwerfungsgeschichte vergessen zu lassen, begannen die niederländischen Kolonialherren, Bali als Ziel für Touristen anzupreisen. Die balinesische Kultur und das dörfliche Leben rückten ins Zentrum dessen, was über Bali geschrieben wurde und die westliche Wahrnehmung Bali beginnt sich zu verändern. Eine entscheidende Rolle in diesem Prozess spielte auch der deutsche Abenteurer, Künstler und Lebemann Walter Spies, der als einer der ersten ausländischen Gäste Bali für sich entdeckte und in seinen Kreisen propagierte. Bali wurde zum Treffpunkt einer jungen Avantgarde. Das Image von der Insel Eden voller spiritueller Harmonie entstand und wurde in den 50er Jahren mit dem Einzug des Massentourismus quasi unerschütterlich

Der Bali-Hinduismus
Bis heute ist Bali der Gegenentwurf eines durch Stress, Hektik und Vereinsamung geprägten Großstadt-Lebens. Trotz ausgeprägter Tourismusindustrie gelingt Bali bis heute die Gratwanderung zwischen Mythos und Moderne. Die Kultur Balis lebt und mit ihr eine unüberschaubare Vielfalt an kulturellen und spirituellen Aktivitäten, die nur ein Ziel haben: den Göttern zu huldigen. Die Balinesen sind ein Volk von tiefer Religiosität; rund 95 Prozent sind praktizierende Hindus. Der Bali-Hinduismus ist eine Modifikation der Ursprungsreligion, des Hinduismus, so wie er in Indien gelebt wird. Typisch für die balinesische Variante ist: der Glauben an den einzigen und alleinigen Gott Sang Hyang Widdhi, die Verehrung des Dreigestirns aus Brahma, Vishnu und Shiva, eine ausgeprägte Ahnenverehrung, der Glaube an die Wiedergeburt und die Vorstellung der Welt als zweigeteilt. Zum Ausdruck kommt das durch die Gegenüberstellung von Himmel und Erde, Sonne und Mond, Reinheit und Unreinheit, Leben und Tod, Gut und Böse, Götter und Dämonen. Jede religiöse Handlung dient dem Ausgleich, dem Ausbalancieren dieser Gegensätze. Gute und böse Mächte sollen stets im Einklang sein, deshalb opfern die Balinesen beiden Mächten. Das geschieht, fünfmal täglich, mit kleinen, aus Bananenblättern geflochtenen Opferschälchen, die mit duftenden Blütenblättern, Reiskörnern und Räucherstäbchen bestückt sind. Und religiöse Feiern finden ständig irgendwo auf der Insel statt.

Tanz für die Götter
Doch auch Kunst und Musik haben auf Bali traditionellerweise nur ein Ziel: die Götter gnädig zu stimmen. Besonders der Tanz spielt in der balinesischen Gesellschaft eine ganz besondere Rolle, und zu jedem Tempelfest, zu jeder religiösen Zeremonie gehört traditionellerweise eine Tanzvorstellung. Es gibt mehr als 200 verschiedene Tänze auf Bali, die sich in Stilistik und Kostümen sehr ähneln - typisches Merkmal aller: das Rollen der weit aufgerissenen Augen. Sie gehen auf denselben Ursprung zurück, unterscheiden sich aber trotzdem deutlich voneinander. Manche Tänze werden nur von Männern getanzt, der Kejak oder “Affentanz” zum Beispiel, andere nur von Frauen oder jungen Mädchen, wie der Legong. Er gehört zu den schwierigsten, wegen der kostbaren und glitzernden Kostümierung aber auch zu den prächtigsten aller balinesischen Tänze. Der Legong war ursprünglich ein Hoftanz, der von kleinen Mädchen aufgeführt wurde, die dem jeweiligen Herrscher gehörten. Daher die extreme Stilisierung des Tanzes: Jede Bewegung ist vorgeschrieben, die Art und Weise, wie sich die Finger spreizen, jede Drehung der Füße und jeder einzelne Schritt. Früher musste eine Tänzerin das schon mit zehn oder elf Jahren perfekt beherrschen, denn wenn sie in die Pubertät kam, galt sie als unrein und durfte nicht mehr länger tanzen. Mittlerweile sieht man aber auch erwachsene Legong-Tänzerinnen auf Bali - ein Tribut an den Fortschritt, dem sich auch Bali nicht entziehen kann.

“Innalillahi wa ina illaihi rojiun…”

“Semua yang diciptakanNya pasti akan kembali kepadaNya…”

Warung X

Berita duka melanda Warung X, warung kesayanganku di Siwalankerto. Ibu Warung X, yang aku ga tahu jelas siapa namanya, meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Aku dapat sms spesial dari Indonesia, tentunya sesama penggemar Warung X. begini bunyi sms Inul, “mizz yo, ibuke warung X meninggal”. Hmmm… rasanya belum lama meninggalkan Surabaya dengan segala hingar bingarnya, kemudian aku menerima berita duka ini.

Selain daripada Warung X adalah warung yang spesial, Ibu Si Empunya Warung X ini juga orang yang menyenangkan. Sejak awal beliau mengenalku sebagai dosen. Di pertemuan pertama, beliau nanya ”mbak, mau minum apa ?”. dalam benakku, sudah lama sekali ga ada yang panggil diriku ”mbak”, sedikit rindu dengan panggilan kesayangan teman-teman di Unair. Kemudian mahasiswa-mahasiswa (sincan-sincan*) itu memprotes, ”itu bukan mbak, Buk! Itu dosenku ! Kajurku !”. kemudian dengan malu dan senyum dia menyapa kembali ”oh… Ibu Dosen, masih muda sudah jadi bu dosen”. ”mau minum apa Bu ?”, tanyanya kembali. Itu adalah kenangan pertama tentang warung X dan tentunya perjumpaan pertama itu yang buat aku jatuh cinta dengan kopi susu buatan Ibuk.

Walaupun sampai sekarang aku tidak tahu namanya, tapi kopi susu buatannya itu membekas di hatiku. Kontan tentu aku sedih dengan kepergiannya. Karena aku selalu menikmati kopi susu dari warungnya, plus beliau juga ahli buat sambal. Bisa order level kepedasannya pula. Plus bisa order di cobeknya langsung, tinggal bilang minta tempe atau tahu dipenyet.

Ibuk Si Empunya Warung X itu telah pergi selama-lamanya, hard to believe, tapi itulah jalan hidupnya dan takdir yang sudah dipilihkanNya untuknya. Beliau meninggalkan anak yang masih berusia SD dan tentunya kita pelanggan-pelanggan setianya. Selamat jalan Ibuk tercinta, kopi susunya kami rindukan !

* sincan = sinyo cantik

First of all, diriku minta maap neh sama yang sudah mengirim email dibawah ini soalnya belum sempet kubalas dan sepertinya dia orang bakalan mendendam berat. Anyway, emailnya keren dan gaul abizzzz, maklum anak komunikasi gitu dan aku banyak belajar kegilaan dari manusia cantik yang satu ini. Karena dia orang tuh santai banget, dosen pembimbingnya malah yang pusing sebelum maju sidang. Anyway, kita berjuang bareng dan dia orang nih udah lulus sekarang (adoohhh… bangganya Mz Yo). ini emailnya :

“Cintakuwh!!! Sayangkuwh!!!!! sambil menulis email ini untukmu, aku sedang mendengarkan lagu positive - rindukan (opo seh??!!) CINTAH!!! maaapkan yag daku begitu lama untuk bersua denganmu. Sekarang aku udah di M radio bertetangga dengan Yani alisa my pren yang rada rada kayak toa’ bwuahahahaaaa….oh yolaaa…pada waktu aku melihat fotomu di blog, mataku langsung berkaca- kaca ingin rasanya menangis terharu mengingta masa - masa menyusun skripsi. betapa dirimu sangat cinta kami semua sampe - sampe nang omah isuk terus udah getoh ikutan ronda ama satpam bwuahahaha

CINTAH!!! Nggak nyangka kalo dirimu begitu fenomenal yag….waktu daku di interview, ada 4 orang yang terdiri dari : Mas Doddy, Mas Heru, Mas Romi dan Pak Toyo….bwuahahaha… yang terakhir pasti kamu udah kenal yag…duh! pas dia wawancara aku, nanya tentang fungsi radio sebagai media komunikasi trus m radio d bagian manannya yang komunikasi, alamak! pas daku menjawab MUSIK eh langsung pak Toyo menyebutkan namamu…oh astaga! terharu plus merinding getog….wuakakakakakak CINTA CINTA CINTA…eh kamu masih ngamuk ngamuk kah ???? duh! jeng!! sensi amat seh situ!!! Jangan marah marah teyus duonggggg….

..hihihihihihihihi…. CINTA CINTA CINTA…KANGEN KANGEN KANGEN…eh backsoundku ganti lagi. Lagunya ME - TERBUKA yang satu album ama yang judulnya INIKAH NAMANYA CINTA bwuahahaha YOLA!!!!! Wes aku mau cerita apa lagi yag….oiya! stillll ’strugling’ with my family…..dimana nggak setuju ama kerja di media. Again n again karena gaji…welll this is about FREEDOM!!! sebagai seorang yang dewasa duong!!! welll yeah…begitulah adanya yang terjadi saat ini….POKOKNYA AKU KANGEN AMA KAMU CINTA!!! CUP CUP CUP MUAH MUAH”

Berbicara tentang kerja, aku ingat diriku semasa SMA, ketika baru berumur belasan tahun, aku ditanya oleh orang-orang disekelilingku, aku ingin bekerja di bidang apa di kemudian hari. Aku menjawab, “arsitek” karena aku penikmat seni, dan bisa menggambar sedikit-sedikit. Aku yakin pada saat itu aku ingin jadi “Arsitek”. Selepas SMA ada keinginan juga ingin belajar “design”. Tapi kelihatannya aku bukanlah manusia yang ditakdirkan untuk menjadi seorang arsitek. Aku adalah anak ilmu sosial, itu label terakhirku di SMA.

Walaupun SMA adalah masa-masa pencarian jati diri, bagiku aku sudah harus menetukan pilihan studi yang ingin aku geluti. Matematika, Kima dan Fisika, bukanlah pelajaran favoritku. Nilaiku tidak pernah bagus diantara pelajaran yang sudah kusebutkan. Aku sangat mengagumi teman-temanku yang jago menghitung dan bikin rumus. Terus akhirnya aku menemukan hal lain bahwa aku suka bahasa dan ingin mengeksplorenya.

Akhirnya kuliah di Sastra Inggris, 4,5 tahun lamanya, alhasil aku berlatih dan bertahan hidup di fakultas sastra sepanjang 4,5 tahun itu. Lumayan, tapi sebenarnya aku tidak puas karena sebenarnya aku ingin kuliah komunikasi. Tapi maklum pada saat itu masih belum ada jurusan komunikasi. Kemudian selepas S1 langsung aku mendaftarkan diri di Airlangga untuk master komunikasi. Dan kemudian sejak kuliah di sastra itu aku mulai jatuh cinta dengan dunia pengajaran. Beberapa pengalaman menjadi asisten, kemudian menguji ketetapan hatiku di dunia pengajaran. Indeed, i found my passion there.

Kalau ditanya aku ingin jadi apa, tentu aku tidak pernah bilang kalau aku ingin jadi DOSEN. Astaga mustahil banget, karena kita semua tahu dosen itu kepanjangan dari “kerja sak-DOS, gaji sak-SEN”. Sampai akhirnya beberapa tahun ini aku membaktikan diri pada dunia pendidikan perguruan tinggi, menggawangi 600 mahasiswa, aku pun masih bekerja sak-DOS dengan gaji sak-SEN. Intinya, ini adalah pekerjaan yang tidak pernah aku bayangkan ketika aku masih sangat muda. Apalagi bekerja dengan berbagai orang yang berbeda kultur dan budaya, kemudian bekerja dengan orang muda dan juga orang yang umurnya jauh berbeda denganku. Belajar menghadapi mahasiswa yang beda umurnya 6-10 tahun lebih muda daripadaku. Aku kembali teringat masa-masa kerja proyek di kampus sampai larut malam dan nginap di kampus. Falsafah “kerja sak-DOS gaji sak-SEN” memang itulah kenyataanya.

Lalu apa artinya pekerjaanku, sebagai dosen, yang katanya kerjaan segudang tapi gaji mencekik leher ? Mengapa aku terus bertahan dan tetap mencintai pekerjaan itu walaupun tidak digaji cukup ?Jawabannya semakin meyakinkan hari demi hari, apalagi setelah aku meninggalkan jurusan Komunikasi. Tiada jawaban yang lebih pasti, bahwa aku menemukan “life trasure” (harta karun) dalam pekerjaanku. “life treasure” ini tidak bisa digantikan oleh uang atau materi apapun, karena “life treasure” ini yang akan ada tertempel dan mengikatku sampai akhir hidupku. Harta karun kehidupan ini aku temukan di masa aku dan mahasiswaku menempuh masa-masa suka dan duka, ketika mereka butuh dorongan, ketika mereka butuh omelan, ketika mereka butuh kakak/ibu/teman untuk mendengar, ketika mereka dipukuli pacarnya, ketika mereka tidak diterima lingkungannya, ketika mereka belajar berorganisasi, ketika mereka butuh bercerita ataupun menangis. Rasa percaya yang sudah diberikan mahasiswaku, tiap tangisan mereka, tiap tawa mereka, tiap rasa kesuksesan mereka itu adalah harta karun kehidupanku yang kudapatkan dalam pekerjaanku. Lebih penting dari semua itu, aku mendapatkan cinta kasih dan perhatian mereka, itu yang selama ini tidak terbayarkan, itu yang memotivasiku.

Curhat temanku ini, mengingatkanku pada jaman dimana aku mulai menapakkan karirku di dunia pendidikan. Jangan salah, aku juga pernah salah pilih motivasi. Bekerja adalah untuk mendapatkan hak materi lebih, uang lebih, gaji lebih. Setahun penuh aku bekerja untuk anak-anak preschool dengan motivasi seperti ini dan yang kudapatkan hanya “ketidakpuasan”. Aku tidak pernah puas dengan apa yang aku dapatkan saat ini, ditambah lagi aku merasa lelah sekali selepas kerja. Suatu saat bosku mengajak aku berbicara, untuk membuatku berpikir dengan paradigma yang berbeda. Dia berhasil membuka pikiranku, bahwa anak-anak didikku berhak untuk mendapatkan perhatian dan peduli yang tulus dari hatiku. Anak-anak didikku saat itu berumur 2-4 tahun, mereka sangat peka akan sesuatu yang tulus atau tidak. Bayangkan, aku belajar ketulusan itu dari anak-anak didikku yang berumur 2-4 tahun, dan saat itulah aku menemukan harta terpendam itu untuk pertama kalinya. Kemudian sejak itu aku tidak pernah melihat lagi amplop gajiku.

Tak disangka memang perjalanan karirku sampai Juni kemarin masih berpusar di dunia pendidikan. Walaupun sejak tahun 2004 aku menghadapi audience yang lebih dewasa (menurut hitungan umur) tapi sebenarnya mereka sama saja. Dari mereka aku belajar lebih banyak lagi. Tidak pernah ada terbayang bahwa aku menjadi dosen dan mahasiswa mengenalku sebagai dosen galak (apalagi waktu ujian, karena mereka tidak bisa menjawab pertanyaan signifikansi). Tidak pernah terbayang kalau saat ini aku menikmati persahabatanku dengan mantan mahasiswaku. Tapi itulah kekayaan hidupku yang selalu menyemangatiku setiap saat. Mungkin kekayaan hidup itu jugalah yang mesti kamu pikirkan, temanku. Semoga sharing ini bisa menyemangatimu.

Campursari ala Didi Kempot: Perempuan dan Laki-laki Jawa Mendobrak Patriarki

Oleh: Yola Damayanti Gani, S.S., M.Si. dan Willy Chandra, S.T.

 

Abstrak :

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti pada fenomenacampursari -musik etnik Jawa baru- yang sekitar tahun 2000 dipopulerkan oleh Didi Kempot –asal Solo, Jawa Tengah-. Lagu Campursari -teks dalam analisa studi Semiotika- kaya akan kode–kode sosial yang dapat menggambarkan perempuan dan laki-laki Jawa. Berangkat dari stereotip kultural, Didi kempot tidak hanya merepresentasikan laki-laki Jawa yang tenang, kalem dan tidak suka konflik, namun ia menghadirkan gambaran laki-laki yang (sama seperti perempuan) juga mengutamakan perasaan. Masih berada dibawah payung budaya Patriarki, perempuan berusaha mendobrak ideologi patriarki yang mebayang-bayanginya. Melalui lagu-lagunya, perempuan Jawa digambarkan semakin berani dalam menentukan sikapnya.
Kata kunci: Gambaran, Teks, Budaya Jawa, Patriarki

Industri Musik dan Didi Kempot

Ada beberapa komponen industri media yang membungkus pesan dan produk; pesan atau produk itu sendiri, penonton (yang mengkonsumsi produk), dan teknologi yang terus berubah. Komponen-komponen ini berinteraksi secara terus menerus dalam dunia sosial dan budaya, mendiami sebuah ruang yang secara konstan diuji. Perubahan kontur ruang akan mempengaruhi dan mengarah pada pola dominasi dan representasi yang berbeda-beda. Selain film, drama dan sinetron, lagu juga termasuk produk media. Bahasa menjadi bagian penting dari lagu, bahasa mencakup kode-kode representasi (yang tidak tampak) penuh dengan beragam kompleksitas visual literal, simbol dan metafora. Penelitian ini ditujukan untuk mengkonstruksikan gambaran perempuan dan laki-laki Jawa melalui lagu-lagu campursari yang diciptakan oleh Didi Kempot.

Nama Didi Kempot mulai ramai dibicarakan sekitar awal tahun 2000. Lagu-lagunya, kala itu Stasiun Balapan dan Sewu Kutha, diputar di banyak tempat di kota Solo. Didi Kempot dilahirkan pada 31 Desember 1966 dengan nama Didi Prasetyo. Didi, yang adalah adik kandung pelawak kondang Mamiek Srimulat, merintis karirnya dengan mengamen di bus-bus bersama teman-temannya yang tergabung dalam Kelompok Penyanyi Trotoar. Kempot sendiri merupakan kependekan dari Kelompok Penyanyi Trotoar. Kehidupan jalanan dan kelas menengah ke bawah adalah lingkungan yang sudah diakrabinya dengan baik. Tidaklah mengherankan jika tema lagu-lagu yang diciptanya selalu menggambarkan kejadian-kejadian dalam hidup keseharian dalam masyarakat kelas tersebut, demikian juga dengan lirik-liriknya yang menggunakan bahasa Jawa ngoko. Ia sedang berada di puncak kreativitasnya, inspirasi mengalir seperti air. Mencipta lagu dilakukan kapan saja, bahkan ketika sedang naik sepeda motor dan tiba-tiba mendapat ilham, ia segera berhenti untuk menulis lagu. Lagunya yang berjudul Nunut Ngeyup (Numpang Berteduh) misalnya, ia cipta kala berteduh di emperan sebuah toko saat sedang hujan.

Campursari sebagai sebuah aliran baru dalam musik etnis Jawa adalah sebuah fenomena yang berhasil dimunculkan oleh Didi Kempot, namun hingga meledaknya lagu-lagu campursari yang membesarkan namanya tidak diraih dengan mudah. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Didi Kempot untuk mempopulerkan musik ini. Pada awal kemunculan lagu-lagunya, Agustus 1999, tak satu pun pedagang kaset yang meliriknya. Gaya musik dengan nada yang sedikit ugal-ugalan dianggap meniru dari model musik karya Manthous yang tengah mapan waktu itu. Upaya promosi lewat televisi pun menemui hambatan karena video klip Stasiun Balapan yang sedianya ditayangkan di TVRI Solo gagal tayang disebabkan kesalahan teknis waktu pengambilan gambar. Lagu-lagu Didi Kempot mulai dikenal oleh masyarakat setelah disiarkan di radio-radio swasta di Solo. Dari Solo kemudian lagu-lagu Didi Kempot menjadi terkenal di seluruh Indonesia, khususnya Jawa, bahkan hingga ke mancanegara yaitu di Suriname yang warga negaranya mempunyai kultur etnis Jawa.

Dalam penelitian ini, lagu-lagu yang diciptakan oleh Didi Kempot adalah teks (sasaran penelitian). Lirik lagu adalah teks utamanya sedangkan kehadiran klip versi VCD menjadi teks pelengkap. Sebuah teks secara berurutan berada dalam siasat penempatan strategis secara terus menerus akan bersaing untuk memberi pengaruh paling besar, serta menggunakan struktur polisemi dengan beberapa bentuk tetap untuk menanamkan pemahaman atau ideologi tertentu pada pembaca.

Sebagai teks, lirik-lirik lagu Didi Kempot itu tidak berdiri sendiri, tetapi dilatarbelakangi oleh konteks sosial kultural. Stuart Hall, perintis cultural studies, menegaskan bahwa sebuah teks dimaknai dalam proses encoding dan decoding. Dalam proses encoding, kita akan memahami apa latar motivasi pembuat teks dan bagaimana konstruksi sosial kultural yang membentuk teks itu, sementara decoding menggiring pada bagaimana decoder menyusun makna. Mengutip dari Hall, “If the relationship between a signifier and its signified is the result of a system of social conventions specific to each society and to specific historical moments- then all meanings are produced within history and culture”. Dengan demikian Hall tidak melihat pemaknaan teks dalam proses kekuasaan satu arah. Hall melihat bahwa teks hadir sebagai sebuah representasi sosial dan relasi antar kekuasaan. (http://freelists-180.iquest.net/archieves/ppi/12-2004/msg02105.html, 2007, Februari 26).

Dalam pembahasan lirik lagu, konteks menjadi salah satu hal penting dalam memaknai lirik. Susan Donley (2001) melihat adanya keterkaitan yang kuat antara syair lagu dan realitas sosial. Dia membagi fungsi syair lagu menjadi tiga, yaitu fungsi literatur, fungsi dokumentasi sejarah, dan fungsi dokumentasi sosial. Fungsi literatur menekankan aspek tema dan pesan dalam syair. Fungsi dokumentasi sejarah melihat aspek tata nilai, kepercayaan dan peristiwa dalam kurun waktu tertentu. Sementara fungsi dokumentasi sosial melihat aspek representasi tren, motivasi dan pengalaman pembuat syair, serta untuk siapa syair itu dibuat. (http://freelists-180.iquest.net/archieves/ppi/12-2004/msg02105.html, 2007, Februari 26).

Ideologi adalah tentang ide-ide yang dimiliki secara umum oleh kelompok-kelompok sosial dalam kehidupan sehari-hari mereka yang diorganisasikan dengan cara-cara tertentu. Ideologi merupakan ide-ide logis yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang memegang ideologi yang beragam tersebut merasa dan memahami dunia dalam suatu cara yang konsisten secara relatif. Ideologi adalah proses perwakilan bahan relasi sosial dan usaha untuk meyatakannya dalam wacana (Thwaites, Davis, & Mules, 1998). Proses perwakilan tersebut melalui pembentukan tanda-tanda yang tampak jelas dan umum yang merupakan bagian dari struktur sosial (kelompok dan institusi). Fiske melalui teori kode televisinya mengatakan “a rule-governed system of signs, whose rules and conventions are shared amongst members of a culture and which is used to generate meanings and for that culture” (Fiske, 1987).

Ideologi adalah suatu tanda logis yang penuh kekuatan dari cara-cara masyarakat dalam berperilaku dan memformulasikan kepercayaan-kepercayaan. Ideologi memiliki kekuatan untuk membentuk atau mengkonstruksi suatu konteks sosial dalam masyarakat melalui interaksi antara pengirim dan penerima teks (Thwaites, Davis, & Mules, 199 8) . Dalam penelitian ini ideologi patriarki adalah konsep yang penting bagi masyarakat Jawa karena campursari yang dipopulerkan oleh Didi Kempot menggambarkan masyarakat Jawa dan budaya patriarki, Didi Kempot sendiri adalah bagian dari masyarakat Jawa. Bhasin menjelaskan bahwa kata patriarki secara harafiah berarti kekuasaan bapak atau “patriakh (patriarch)”. Pada awalnya patriarki digunakan untuk menyebut suatu jenis “keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki”, yaitu rumah tangga besar patriarch yang dikuasai oleh laki-laki (Bhasin, 1996, p.1). Secara detail, patriarki merujuk pada sebuah bentuk organisasi rumah tangga dimana laki-laki mendominasi anggota keluarga yang lain dan mengontrol produksi ekonomi rumah tangga. Patriarki dipandang sebagai ideologi bagaimana laki-laki mendominasi. Masyarakat yang patriarkis adalah masyarakat yang dimana laki-laki memiliki kekuatan dan kontrol. Perempuan biasanya dieksploitasi, dirugikan dan mempunyai status yang lebih rendah.

Stereotip Kultural dan Representasi Kultural

Representasi, adalah istilah yang digunakan untuk menandakan kehadiran atau ketidakhadiran orang atau warna media, penggambaran konstruktif atau non konstruktif. Pada definisi lainnya,

“The process, and the products, that gives signs their particular meaning is representation. Through representation, abstract, and ideological ideas are given concrete form” (Sardar, Z., & Vanloon, B.,2003, p.13)

Rudytard Kipling (1865-1936) dan E.M.Foster (1879-1970) menggambarkan orang-orang Indian dalam novelnya sebagai “cowards”, “effeminate”, dan “untrustworthy”. Semua hal yang berkultur non-barat (kultur maupun peradaban) dipandang sebagai “The Other of The West”. Dalam masyarakat barat, perempuan, imigran, dan homoseksual seringkali dipandang sebagai “The Other of The West”. Representasi yang sangat umum dari “bagian yang lain dari Barat” adalah sisi gelapnya. Ketika bangsa Barat berpikir mereka beradab, maka “The Other” adalah barbarian, kolonis giat bekerja tetapi penduduk asli malas, heteroseksual baik dan bermoral sementara homoseksual tidak bermoral dan jahat.

Dalam prakteknya, laki-laki dan perempuan telah direpresentasikan oleh media massa sesuai dengan stereotip kultural yang mereproduksi peran gender. Laki-laki selalu ditampilkan dominan, aktif, agresif, otoratif, pemimpin, suka mengambil tantangan dan mandiri. Laki-laki memerlukan berbagai macam peran penting yang membutuhkan profesionalisme, efisiensi, rasionalitas dan kekuatan untuk menjalankan pekerjaannya dengan sukses. Sebaliknya, perempuan digambarkan sebagai seseorang yang tersubordinasi, pasif, menyerah, tunduk, patuh, dan marjinal, serta melakukan pekerjaan yang tidak terlalu penting dan tidak menarik sebagaimana tercirikan dalam seksualitasnya, emosinya dan domestifikasinya.

Berdasarkan sifatnya, organ tubuhnya dan organ reproduksinya, laki-laki dikatakan perkasa, lebih kuat daripada perempuan sehingga laki-laki lebih bersifat tegar, kuat, jantan bahkan kasar. Sedang perempuan sebaliknya, perempuan bersifat halus, penyabar, keibuan dan lemah lembut. Berdasarkan peran, perempuan memiliki jiwa feminin berperan di sektor domestik (memasak dan merawat anak) sedangkan laki-laki yang maskulin berperan di sektor publik (mencari nafkah dan memberikan perlindungan terhadap keluarga).

Representasi perempuan secara kultural dalam media massa dipandang sebagai pendukung untuk melanjutkan pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin dan kelanggengan konsep feminitas dan maskulinitas. Penghancuran perempuan secara simbolis dipraktekkan untuk mengkonfirmasi bahwa peran istri, ibu dan ibu rumah tangga adalah nasib perempuan di dalam masyarakat patriarkis. Perempuan disosialisasikan melalui media untuk melakukan peran-peran tersebut. Seolah-olah representasi kultural tersebut mengkonfirmasi perolehan hak istimewa mereka sebagai perempuan.

Sependapat dengan Tuchman, Modleski menyatakan bahwa perempuan diposisikan sebagai pihak yang bertanggungjawab dengan efek-efek budaya massa yang merugikan sementara laki-laki bertanggungjawab terhadap kesenian adiluhung –high culture-. Terlebih perempuan dianggap bertanggungjawab atas munculnya budaya massa.(Strinati, 2004, p.219). Budaya massa (budaya pop) yang diletakkan lebih rendah dibandingkan kebudayaan adiluhung tidak terlepas dari sifat-sifat feminin dan maskulin.

Tabel (1): High Culture-Mass Culture

High Culture (Art)

Mass Culture (Popular Culture)

Masculinity

Feminity

Production

Consumption

Work

Leisure

Intellect

Emotion

Activity

Passivity

Writing

Reading

Sumber: Strinati, 1995, p.191

Budaya pop tidak bisa dilepaskan dari gender dan konstruksi yang membentuk konsep gender tersebut. Terlebih pada struktur masyarakat Indonesia, ideologi patriarki masih sangat kuat. Sehingga perempuan berada pada posisi inferior dibandingkan laki-laki sehingga perempuan seringkali dinihilkan, dikecilkan, dimarjinalkan.

Semiotika: Membaca Kultur Jawa Melalui Kode Sosial

Semiotika adalah studi tentang tanda dan cara tanda-tanda itu bekerja. Menurut Fiske, semiotika mempunyai 3 bidang studi utama yakni tanda itu sendiri, kode atau sistem yang mengoperasikan tanda, dan kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Bagi Saussure, tanda terdiri dari suara dan gambar, disebut ‘signifier’ dan konsep suara dan gambar yang sampai dipikiran, yang disebut ‘signified’. Dalam ‘Media and Communication Reserach Methods’ Berger menggambarkan konsep tanda menurut Saussure dalam tabel dibawah ini:

Mengutip Saussure, “words are signs, but so are other things, such as facial expressions, body language, clothes, haircuts” (Berger, 2000, p.37). Lirik lagu adalah salah satu jenis tanda. Semiotika memusatkan perhatiannya pada tanda –teks-. Teks bukanlah merupakan susunan yang sama jenisnya dimana hanya berisi sebuah pengertian, tetapi teks terdiri dari tanda-tanda yang berlainan yang memiliki banyak arti.

Dalam penelitian ini, teks juga disajikan dalam bentuk metafora. Metafora adalah “A word or image may be used symbolically, to represent something else entirely, something with which it has certain features in common.” (Marshall & Werndly, 2002, p.32). Metafora diwujudkan dalam bentuk eksplisit adalah bentuk simile, yang menunjukkan perbandingan. Namun metafora juga diekspresikan tanpa penghantar misalnya ‘hati yang patah’.

Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Parangtritis:
Ruang Publik Penawar Romansa Kelas Menengah Kebawah

Lagu-lagu yang diciptakan Didi Kempot banyak menggunakan setting ruang publik, misalnya: Stasiun Balapan[i], Terminal Tirtonadi[ii], dan Parangtritis[iii]. Stasiun Balapan[iv] adalah stasiun kereta api yang sangat terkenal di kota Solo, Stasiun Balapan adalah ikon yang sangat melekat pada identitas kota Solo.

Ning Stasiun Balapan
(di Stasiun Balapan)
Kutha Solo sing dadi kenangan

(Kota Solo yang menjadi kenangan)
Sumber:
Lagu: Stasiun Balapan, (IMC Duta Record (Produser). (2006). Koleksi emas Didi Kempot [CD]. Jakarta: IMC Duta Record).

Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi adalah setting yang menunjukkan bahwa lagu Didi Kempot menggambarkan lelaki yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah. Kereta api dan bus adalah salah satu alat transportasi yang sangat merakyat dan digunakan oleh banyak orang. Kereta api dan bus adalah sarana transportasi yang harganya mudah dijangkau oleh mereka yang tidak berkocek tebal. Sedangkan Pantai Parangtritis adalah setting yang juga menggambarkan masyarakat kelas ekonomi bawah. Keindahan pantai Parangtritis dapat dinikmati dengan gratis oleh setiap pengunjungnya. Pengunjung pantai tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk menikmati keindahan pantai. Pantai adalah setting romantis yang dijual dengan harga yang murah.

Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi, menjadi tempat publik yang penting yang menggambarkan akses keluar masuk kendaraan, hilir mudik kendaraan (pulang dan pergi). Demikian Didi Kempot menjadikan Stasiun Balapan dan Terminal Tirtonadi simbol perasaan, perasaan bahagia (ketika menunggu dan akhirnya menemukan orang yang dijemput) dan sebaliknya, perasaan sedih (ketika harus berpisah dengan orang yang dekat di hati).

Parangtritis

Sementara itu Parangtritis[i] adalah pantai yang sangat terkenal di Yogyakarta dan sekitarnya. Pantai ini terkenal dengan sejarah dan kekuatan magisnya. Pantai ini erat dengan nilai budaya Jawa kendati sering digunakan untuk prosesi adat Jawa (http://id.wikipedia.org/wiki/parangtritis, 26 Februari 2007). Pantai ini hampir tidak pernah sepi pengunjung, banyak wisatawan dalam dan luar negeri yang berkunjung. Pertemuan sosok lelaki Jawa (dalam lagu Didi Kempot) dengan seorang perempuan cantik tidak terelakkan.

Pantai, gunung dan beberapa wisata alam lainnya dipilih oleh Didi Kempot untuk menjadi simbol romansa. Demikian juga, pantai menunjukkan romantisme. Suasana pantai dengan deburan ombak, angin dan pasir menyodorkan sebuah perasaan khas spesial di hati. Seakan-akan manusia dihadapkan dengan kekuatan alam dan romantisme alam.

Ombak dan Suasana Romantis